Punya Keterampilan Belum Tentu Diterima Kerja, Baznas dan Kemnaker Buka Jalan Penyandang Disabilitas Menuju Dunia Kerja

oleh -5 Dilihat
Manaker Yassierli menyematkan tanda peserta pada pembukaan acara Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Penyandanh Disabilitas di Pendopo Gede, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat 31 Juli 2026. (Foto: Agatha Janendra)
Manaker Yassierli menyematkan tanda peserta pada pembukaan acara Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Penyandanh Disabilitas di Pendopo Gede, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat 31 Juli 2026. (Foto: Agatha Janendra)

KILASJATENG.ID– Memiliki keterampilan belum tentu menjamin penyandang disabilitas mudah mendapatkan pekerjaan. Kondisi tersebut masih menjadi tantangan yang dihadapi banyak penyandang disabilitas di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Selain keterampilan, mereka masih membutuhkan akses yang lebih luas terhadap dunia kerja yang inklusif.

Menjawab tantangan tersebut, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI berkolaborasi dengan Kementerian Ketenagakerjaan meluncurkan program pelatihan dan penempatan kerja bagi penyandang disabilitas di Boyolali.

Program ini memberikan pelatihan keterampilan, pendampingan intensif, hingga fasilitasi penempatan kerja sesuai kemampuan peserta dan kebutuhan dunia usaha.

Salah satu penyandang disabilitas yang merasakan tantangan tersebut adalah Ririn Wahyu Isnaini, pembatik tunadaksa asal Boyolali.

Selama lebih dari empat tahun, ia menggeluti profesi membatik dan menjahit di sebuah sanggar inklusi. Meski mampu menghasilkan pendapatan, pekerjaan tersebut belum mampu memberikan penghasilan yang stabil.

Ririn mengaku pernah mengikuti bursa kerja, namun belum berhasil memperoleh pekerjaan. Kini ia berharap lebih banyak pelatihan kewirausahaan agar mampu membangun usaha yang sesuai dengan kondisi fisiknya.

“Keterbatasan fisik bukan hambatan untuk berkarya. Yang kami butuhkan bukan rasa kasihan, tetapi kesempatan yang sama untuk bekerja dan mengembangkan potensi yang kami miliki,” ujar Ririn.

Baca Juga  Kemenko Pangan Fokus pada Lahan, Benih Unggul, dan Perlindungan Produksi Dalam Negeri.

Harapan serupa disampaikan Giyarto, penyandang disabilitas yang kini sukses menjalankan usaha menjahit dari rumah menggunakan mesin jahit yang telah dimodifikasi sesuai kondisi tubuhnya. Selain menjadi penjahit, ia juga aktif mendampingi pelatihan bagi penyandang disabilitas lainnya.
Menurut Giyarto, pelatihan harus terus dikembangkan dengan berbagai pilihan keterampilan agar penyandang disabilitas mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

“Pelatihan jangan hanya satu bidang. Semakin banyak kompetensi yang dimiliki, semakin besar peluang penyandang disabilitas memperoleh pekerjaan atau membuka usaha secara mandiri,” katanya.

Peserta pelatihan lainnya, Wahyu Saputri, mengaku senang mendapat kesempatan mengikuti pelatihan bersama peserta non-disabilitas. Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dalam memperoleh pekerjaan.

“Program ini membuat kami merasa diperlakukan setara. Saya berharap pelatihan seperti ini terus diadakan agar semakin banyak penyandang disabilitas yang bisa hidup mandiri,” ungkap Wahyu.

Sementara itu, Rizal, peserta pelatihan komputer, mengatakan keterampilan digital yang diperolehnya menjadi bekal penting untuk memasuki dunia kerja.

“Pelatihan komputer ini sangat bermanfaat. Harapannya setelah selesai kami bisa disalurkan bekerja di perusahaan sesuai kemampuan yang dimiliki,” ujarnya.

Melalui program tersebut, sebanyak 25 penyandang disabilitas di Boyolali memperoleh bantuan dengan total nilai Rp250 juta. Bantuan meliputi pelatihan keterampilan kerja, pendampingan intensif, serta akses penempatan kerja yang disesuaikan dengan potensi masing-masing peserta.

Baca Juga  Menteri ESDM Bahlil Beri Sinyal Penurunan Harga Pertamax Bulan Depan Jika Harga Minyak Dunia Terus Melandai

Pimpinan Baznas RI Bidang Digitalisasi, Keuangan, dan Operasional, Mokhamad Mahdum, mengatakan persoalan utama penyandang disabilitas bukan hanya keterampilan, tetapi juga masih terbatasnya akses menuju dunia kerja yang inklusif.

“Kami ingin memastikan penyandang disabilitas tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga memperoleh kesempatan bekerja melalui pendampingan dan penempatan kerja yang berkelanjutan,” kata Mahdum.

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan kolaborasi pemerintah dengan Baznas merupakan bagian dari upaya memenuhi hak setiap warga negara untuk memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak tanpa diskriminasi.

“Kesempatan yang setara harus diberikan kepada semua orang, termasuk penyandang disabilitas, agar mereka dapat mengembangkan kompetensi dan terserap di dunia kerja,” ujar Yassierli.

Program pelatihan dan penempatan kerja ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam memperluas kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas.

Dengan dukungan keterampilan, pendampingan, serta akses ke dunia usaha, semakin banyak penyandang disabilitas diharapkan mampu bekerja secara mandiri, berkontribusi bagi masyarakat, dan memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News