KILASJATENG.ID — Krisis air bersih akibat kemarau panjang semakin meluas di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Warga di sejumlah wilayah kini mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah, komunitas, maupun pihak swasta untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut salah satunya terjadi di Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, di lereng Gunung Merapi. Sumber air yang selama ini menjadi andalan warga mengering setelah hujan tidak turun selama sekitar tiga hingga empat bulan terakhir.
Untuk mendapatkan air, warga terpaksa membeli air bersih dengan harga sekitar Rp175.000 hingga Rp300.000 per tangki.
Bagi sebagian warga, biaya tersebut cukup berat karena air tidak hanya digunakan untuk minum dan memasak, tetapi juga untuk mencuci serta memenuhi kebutuhan ternak.
Salah satu warga Desa Mriyan, Marsih, mengatakan sumber air di wilayahnya mulai mengering sejak beberapa bulan lalu.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat warga sangat bergantung pada bantuan droping air bersih.
“Sumber air sudah mengering sejak sekitar tiga sampai empat bulan lalu. Sekarang kami sangat mengandalkan bantuan air bersih. Kalau tidak ada bantuan, kami harus membeli untuk kebutuhan minum, memasak, mencuci, dan juga untuk ternak,” ujar Marsih.
Kondisi ekonomi yang semakin tertekan membuat Marsih mengaku pernah terpaksa menjual ternaknya untuk mendapatkan uang guna membeli air bersih.
“Kalau tidak ada bantuan, kami harus mencari uang untuk membeli air. Bahkan pernah terpaksa menjual ternak untuk memenuhi kebutuhan air,” katanya.
Warga Tak Mampu Terpaksa Berutang
Kesulitan mendapatkan air bersih juga dirasakan warga lainnya, Sumarni.
Ia mengatakan tidak semua warga memiliki kemampuan finansial untuk membeli air setiap kali persediaan habis.
Sebagian warga bahkan terpaksa berutang kepada orang lain agar kebutuhan air untuk keluarga tetap terpenuhi.
“Selain ada yang terpaksa menjual ternak, warga yang tidak mampu juga harus berutang ke sana kemari untuk membeli air. Air ini kan kebutuhan setiap hari, jadi mau tidak mau harus dicari,” kata Sumarni.
Menurut warga, bantuan droping air menjadi sangat penting selama musim kemarau panjang belum berakhir.
Relawan Salurkan Bantuan Air untuk Ribuan KK
Kondisi tersebut mendorong sejumlah komunitas turun tangan menyalurkan bantuan air bersih.
Ketua Komunitas Relawan Squad Nusantara Chapter Boyolali, Aldila Fajri, mengatakan pihaknya sengaja menyalurkan air bersih ke Desa Mriyan karena mengetahui masyarakat setempat mengalami kesulitan mendapatkan air.
Berdasarkan data yang dihimpun komunitasnya, warga terdampak di wilayah tersebut mencapai sekitar 3.000 kepala keluarga (KK).
“Kami sengaja menyalurkan bantuan air bersih karena melihat kebutuhan masyarakat di Mriyan cukup besar. Informasinya ada warga yang sampai menjual ternak untuk membeli air. Kami ingin sedikit meringankan beban mereka,” ujar Aldila.
Ia mengatakan penyaluran air bersih akan dilakukan secara rutin selama kondisi kekeringan masih berlangsung.
“Kami akan berusaha rutin menyalurkan bantuan sampai musim penghujan datang, selama masih ada masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Krisis Air Meluas ke 33 Desa di 11 Kecamatan
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, mengatakan dampak kemarau panjang tahun ini semakin meluas.
Berdasarkan data BPBD Boyolali, sebanyak 33 desa dan 95 dukuh di 11 kecamatan terdampak krisis air bersih.
Wilayah terdampak tersebar mulai dari kawasan lereng Gunung Merapi hingga wilayah Boyolali bagian utara.
“Untuk kondisi kekeringan atau krisis air bersih tahun ini memang semakin meluas. Saat ini ada 33 desa dan 95 dukuh yang tersebar di 11 kecamatan terdampak,” ujar Ari.
Pemerintah Kabupaten Boyolali bersama sejumlah pemangku kepentingan, komunitas, dan pihak swasta terus melakukan penyaluran bantuan air bersih.
Hingga saat ini, total sekitar 2,5 juta liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat yang terdampak kemarau panjang.
Warga Minta Solusi Jangka Panjang
Meski bantuan air bersih dinilai sangat membantu, warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan distribusi air selama musim kemarau.
Mereka meminta adanya solusi jangka panjang untuk mengantisipasi kekeringan yang kembali terjadi pada musim kemarau berikutnya.
Salah satu solusi yang diharapkan adalah pembangunan sumur dalam atau sumber air alternatif yang dapat digunakan masyarakat ketika sumber air permukaan mengering.
Bagi warga di wilayah terdampak, ketersediaan air bukan hanya persoalan kebutuhan rumah tangga, tetapi juga menyangkut keberlangsungan peternakan yang menjadi sumber penghasilan mereka.
Selama hujan belum kembali turun dan sumber air belum pulih, warga masih harus mengandalkan bantuan pemerintah, komunitas, dan pihak swasta agar kebutuhan air keluarga maupun ternak tetap terpenuhi.


