Dalang Boyolali Usul Wayang Kulit Masuk Sekolah, Jadi Media Pendidikan Karakter Siswa

oleh -4 Dilihat

KILASJATENG.ID- Dalang muda asal Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Ki Gondo Wartoyo, mengusulkan agar wayang kulit tidak hanya dipentaskan dalam acara budaya, tetapi juga dihadirkan di lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran untuk membentuk karakter peserta didik.

Gagasan tersebut disampaikan Ki Gondo saat menjadi narasumber dalam Workshop Penguatan Pembelajaran Berbasis Kebudayaan yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V di SMAN 1 Karanganom, Kabupaten Klaten, Kamis 23 Juli 2026.

Menurut Ki Gondo, sekolah merupakan tempat yang paling strategis untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya bangsa sejak dini. Karena itu, ia berharap sekolah tidak hanya menggelar pertunjukan wayang kulit pada momen tertentu, tetapi juga menghadirkan tokoh-tokoh wayang sebagai bagian dari lingkungan belajar yang dapat dilihat dan dikenal siswa setiap hari.

“Permintaan saya tidak hanya mengadakan pagelaran wayang kulit, tetapi juga menghadirkan tokoh-tokoh wayang di sekolah. Dengan begitu, siswa dapat mengenal, memahami, dan mencintai budaya bangsa setiap hari,” kata Ki Gondo.

Pemilik Sanggar SKWL itu menilai budaya merupakan fondasi penting dalam pembentukan jati diri bangsa. Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai karakter seperti kejujuran, gotong royong, tanggung jawab, disiplin, dan sikap saling menghormati yang selama ini banyak terkandung dalam kisah pewayangan.

Ki Gondo juga menegaskan pelestarian budaya harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Wayang kulit, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi warisan yang dipentaskan pada acara seremonial, tetapi juga perlu dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari agar tetap relevan bagi generasi muda.

“Generasi muda bukan hanya pewaris budaya, tetapi juga penentu masa depan budaya Indonesia. Mereka harus diberi ruang untuk mengenal, memahami, dan mengembangkan budaya sesuai zamannya,” ujarnya.

Baca Juga  Perjalanan Hidup Local Hero Banyumas Mohamad Nurhotim, dari Sales Panci Kini Jadi Pengusaha Sukses

Workshop tersebut dihadiri Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Provinsi Jawa Tengah Basikun, Kepala Seksi SMA dan SLB Bagus Adiroso, serta Kepala SMAN 1 Karanganom Masjhur Tjahjanto, bersama para pendidik dan pemangku kepentingan di bidang pendidikan.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pagelaran wayang kulit yang dibawakan dalang cilik Kalimosodo dan diiringi sinden cilik Dira. Penampilan tersebut menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis kebudayaan sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada para siswa dalam mengenal dan mengapresiasi seni tradisi wayang kulit.

Melalui kegiatan ini, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah berharap pembelajaran berbasis kebudayaan tidak berhenti sebagai materi di ruang kelas, tetapi juga diwujudkan melalui praktik dan apresiasi seni sehingga mampu memperkuat pendidikan karakter sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya Indonesia.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News