ISI Yogyakarta Bawa Pesan Keberlanjutan ke Pameran Seni Internasional di Shanghai

oleh -3 Dilihat
Yulriawan Dafri beserta Rektor ISI Yogyakarta dan perwakilan negara peserta menerima sertifikat Apresiasi dari SACM
Yulriawan Dafri beserta Rektor ISI Yogyakarta dan perwakilan negara peserta menerima sertifikat Apresiasi dari SACM

KILASJATENG.ID– Karya seni Indonesia kembali mendapat ruang di panggung internasional. Sejumlah akademisi sekaligus seniman dari Fakultas Seni Rupa (FSR) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta berpartisipasi dalam The 13th International Exhibition of Traditional Fine Arts di Shanghai Art Collection Museum, China.

Pameran yang mengusung tema “All Rivers Flow to the Sea” tersebut berlangsung pada 8 Juni hingga 9 Juli 2023. Agenda ini menjadi salah satu perhelatan seni internasional yang mempertemukan seniman dari berbagai negara sekaligus mengangkat pentingnya pelestarian warisan budaya.

Penyelenggara mencatat keikutsertaan tahun 2023 menjadi salah satu yang terbesar. Sebanyak 150 seniman dari 26 negara ambil bagian dengan menghadirkan beragam karya dari bidang seni murni hingga kriya.

Pembukaan pameran dilaksanakan pada 8 Juni 2023 di Shanghai Art & Academy. Kegiatan tersebut juga bertepatan dengan penyelenggaraan 11th International Shanghai Intangible Cultural Heritage Protection Forum dan peringatan 18th China’s Cultural and Natural Heritage Day.

Keikutsertaan Indonesia dalam agenda tersebut memiliki arti khusus karena delegasi dipimpin langsung oleh Rektor ISI Yogyakarta Prof. Dr. Timbul Raharjo, M.Hum. Selain mengikuti pameran, delegasi Indonesia juga berpartisipasi dalam forum yang membahas perlindungan warisan budaya takbenda.

Dari ISI Yogyakarta, terdapat 10 staf pengajar FSR yang menjadi peserta pameran. Mereka terdiri atas Djandjang P.S., Titiana Irawani, I Made Sukanadi, Sugeng Wardoyo, Lutse Lambert, Aruman, RA. Sekartaji Suminto, Anna Galuh Indreswari, Yulriawan Dafri, serta Prof. Dr. Timbul Raharjo.

Baca Juga  Tim Putra Popda Kota Solo Juara Bola Basket POPDA Jawa Tengah 2026

Keterlibatan para akademisi tersebut menunjukkan bahwa karya seni yang lahir dari lingkungan perguruan tinggi tidak hanya berkaitan dengan persoalan estetika. Seni juga dapat menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan mengenai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Salah satu karya yang menarik perhatian dalam pameran tersebut adalah “Linked Traces” karya Yulriawan Dafri, Wakil Dekan Bidang Akademik sekaligus staf pengajar Jurusan Kriya FSR ISI Yogyakarta.

Linked Traces karya Yulriawan Dafri
Linked Traces karya Yulriawan Dafri

Melalui karya kriya tiga dimensi tersebut, Yulriawan mengangkat gagasan mengenai keberlanjutan material. Kayu diolah menjadi karya seni yang tidak hanya mengutamakan bentuk dan nilai estetis, tetapi juga membawa pesan mengenai hubungan manusia dengan lingkungan.

Konsep tersebut berangkat dari pemikiran bahwa material yang digunakan dalam penciptaan karya sebaiknya memiliki usia pemanfaatan yang panjang. Dengan demikian, material tidak mudah berakhir sebagai limbah atau menjadi sampah yang tidak lagi memiliki nilai guna.

“Linked Traces” menjadi representasi bagaimana kriya kontemporer dapat digunakan untuk membicarakan persoalan lingkungan. Bentuk karya tidak semata-mata menjadi objek visual, tetapi juga berfungsi sebagai media komunikasi yang menyampaikan gagasan dari senimannya.

Persoalan sampah dan kerusakan lingkungan menjadi perhatian yang semakin penting di tengah meningkatnya aktivitas manusia. Sampah yang sulit terurai dapat memberikan dampak terhadap kualitas tanah, air, dan udara. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap kualitas kehidupan manusia.

Baca Juga  Pelatihan Digital Marketing UPN Veteran Yogyakarta Dorong Penjual Jamu Canden Bantul Membangun Merek yang Kuat

Di sisi lain, pemanfaatan material organik seperti kayu juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya. Pertumbuhan pohon membutuhkan waktu, sementara eksploitasi hutan dapat berlangsung jauh lebih cepat.

Melalui “Linked Traces”, Yulriawan mencoba menghadirkan perspektif bahwa seniman memiliki ruang untuk ikut menyuarakan persoalan sosial dan lingkungan. Karya seni dapat menjadi jembatan komunikasi yang mengajak masyarakat melihat kembali cara manusia memperlakukan alam.

Keikutsertaan karya tersebut dalam pameran internasional di Shanghai sekaligus memperlihatkan perkembangan kriya kontemporer Indonesia yang mulai semakin kuat dalam membawa isu global. Estetika, gagasan, dan kepedulian lingkungan dipadukan dalam sebuah karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki pesan sosial.

Pameran The 13th International Exhibition of Traditional Fine Arts akhirnya menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan seni dari sejumlah negara. Bagi Indonesia, khususnya ISI Yogyakarta, kehadiran tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan karya akademisi seni sekaligus menunjukkan bahwa seni dapat mengambil peran dalam membangun kesadaran terhadap keberlanjutan lingkungan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News