KILASJATENG.ID– Terlemparnya Kota Solo dari Daftar 10 Besar Kota Toleran menurut Setara Institute menjadi pukulan tersendiri bagi masyarakat kota bengawan. Lantaran, banyak kota yang masuk 10 besar di tahun ini pernah menimba ilmu tentang toleransi di kota yang memiliki nama resmi Kota Surakarta ini.
Menyikapi hal itu, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Solo menyiapkan sejumlah program agar kota bengawan bisa kembali masuk 10 besar di tahun 2027 mendatang.
Ketua FKUB Solo, Muhammad Mashuri mengatakan, setidaknya ada 10 program strategis yang akan dijalankan secara bertahap sepanjang tahun ini.
“Program pertama adalah sosialisasi wawasan kebangsaan, moderasi beragama, dan regulasi kerukunan di 54 kelurahan se-Kota Solo. Program ini sudah mulai berjalan di Kecamatan Jebres dan akan dilanjutkan ke Pasar Kliwon, Serengan, Laweyan hingga Banjarsari,” ujarnya kepada awak media di Gedung Sekber Kota Solo, Kamis 20 Mei 2025.
Dengan jadwal dua kali sepekan, Mashuri mengatakan kegiatan safari dengan menyapa masyarakat, RT dan RW untuk menyampaikan pesan toleransi hingga dipahami semua kalangan tersebut akan selesai Juni mendatang di 54 kelurahan di lima kecamatan yang ada.
“Kami ingin masyarakat betul-betul memahami pentingnya toleransi dan kerukunan. Jadi bukan hanya berhenti di tingkat formalitas,” ucapnya.
Program kedua adalah branding taman cerdas menjadi “Taman Toleransi”. Dimana FKUB berencana menambahkan pesan-pesan moderasi beragama dan edukasi kerukunan di sekitar 17 titik taman cerdas yang ada di Kota Solo.
“Konsep ini telah mendapat dukungan dari Wali Kota Solo dan saat ini tinggal mematangkan konsep serta penganggaran. Esensinya tidak mengurangi fungsi taman cerdas, tetapi ditambah edukasi mengenai toleransi dan moderasi beragama,” paparnya.
Program ketiga adalah audisi Putra-Putri Duta Kerukunan. Program ini menyasar generasi muda agar menjadi agen perubahan sekaligus influencer toleransi di lingkungan masing-masing dengan proses seleksi akan dilakukan mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga kota.
“Para duta kerukunan ini akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial dan edukasi kebhinekaan. Karena kami ingin anak muda menjadi motor penggerak toleransi di tengah masyarakat,” ucap Mashuri.
Selain itu, FKUB juga menyiapkan hotline kerukunan yang dapat diakses masyarakat selama 24 jam. Layanan tersebut diharapkan menjadi jalur cepat penyelesaian ketika muncul persoalan sosial maupun potensi konflik antarumat beragama. Kemudian juga akan diterbitkan buletin kerukunan yang berisi pesan-pesan toleransi, kegiatan lintas agama, hingga edukasi moderasi beragama. Buletin tersebut akan disebarluaskan kepada masyarakat sebagai media literasi sosial.
Program keenam, adalah kirab kerukunan antarumat beragama berbasis hari besar keagamaan. Agenda terdekat akan dilaksanakan dalam momentum Hari Raya Waisak. Selanjutnya kegiatan serupa juga akan digelar dalam perayaan agama lain agar seluruh umat beragama mendapatkan ruang yang sama dalam membangun harmoni sosial.
“Kita ingin semua agama mendapatkan ruang yang sama dan masyarakat melihat bahwa kerukunan itu nyata,” katanya.
Masih di tingkat lingkungan, program selanjutnya adalah memperkuat Kelurahan Sadar Kerukunan berbasis potensi lokal. Dimana selama dua tahun terakhir FKUB melakukan pemetaan potensi di 54 kelurahan, mulai dari UMKM, sentra industri, wisata religi, situs sejarah hingga budaya lokal. Menurut Mashuri penguatan ekonomi masyarakat berbasis kerukunan menjadi langkah penting menjaga harmoni sosial di tingkat bawah.
“Ketika masyarakat memiliki kepentingan ekonomi bersama, maka kerukunan akan lebih mudah dijaga. Kalau ada pihak yang mengganggu, otomatis dianggap mengganggu kepentingan bersama,” jelasnya.
FKUB juga berencana menggandeng CSR perusahaan, pemerintah hingga komunitas lokal untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis toleransi. Selain itu, yang terakhir adalah dengan menggelar berbagai kegiatan olahraga dan hobi lintas agama tahun ini. Mulai dari turnamen olahraga bertema kerukunan hingga kegiatan mancing bersama lintas komunitas.
“Olahraga dan kegiatan hobi diyakini mampu menghapus sekat perbedaan karena masyarakat akan lebih mengutamakan sportivitas dan kebersamaan. Karena olahraga orang bisa lebih cair dan melupakan perbedaan. Itu juga bagian dari memperkuat toleransi,” ungkapnya.
Mashuri mengatakan 10 program tersebut dirumuskan FKUB berdasarkan hasil evaluasi Indeks Kota Toleran yang digunakan Setara Institut dalam memberikan penilaian Daftar 10 Besar Kota Toleran, yang belum dipenuhi di Kota Solo.
“Banyak faktor dan variabel yang menjadi penilaian. Jadi memang harus dilakukan bersama-sama oleh seluruh stakeholder. Kota Solo belum mampu menembus 10 besar karena indikator penilaian dari Setara Institute terus berkembang setiap tahun. Sementara beberapa program yang pernah menjadi keunggulan Solo kini sudah banyak diadopsi daerah lain. Sehingga dibutuhkan inovasi toleransi dari yang sudah ada sekarang dan dari program-program yang akan dijalankan diharapkan bisa mengembalikan Kota Solo kembali masuk 10 besar Kota Toleran,” pungkasnya.


