KILASJATENG.ID– Makin beragamnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan di tengah pesatnya perkembangan teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi perbankan. Khususnya industri keuangan syariah di Indonesia.
Pasalnya, meski terus menunjukkan resiliensi dan pertumbuhan yang kuat di tengah dinamika ekonomi nasional. Namun di sisi lain, pangsa pasar (market share) keuangan syariah nasional masih berada di level 11,24 persen.
Anggota Komite Pengembangan Keuangan Syariah OJK, Dian Masyita mengatakan, data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset keuangan syariah nasional telah menembus angka Rp3.264 triliun per Juni 2026. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 9,82 persen secara tahunan (year-on year).
“Tapi market sharenya masih kecil. Karena itu pentingnya meningkatkan kemudahan akses, daya saing, relevansi produk, serta kesesuaian prinsip syariah sebagai faktor krusial untuk mengakselerasi perluasan industri ini,” ujarnya.
Dan tantangan tersebut dijawab PT BCA Syariah melalui aplikasi mobile BSya dan menjadikannya sebagai ujung tombak strategi pelayanan digital sekaligus mendobrak batasan aksesibilitas, memberikan pengalaman perbankan syariah yang modern bagi masyarakat luas.
Direktur BCA Syariah, Pranata mengatakan, digitalisasi pun menjadi salah satu strategi untuk memperluas jangkauan layanan. Melalui aplikasi BSya, BCA Syariah berupaya memudahkan masyarakat mengakses layanan perbankan dan pembiayaan.
“Sinergi antara inovasi teknologi dan relevansi produk inilah yang terus diandalkan untuk memperbesar kontribusi keuangan syariah di Tanah Air,” terangnya.
Melalui aplikasi mobile BSya, nasabah bisa mengakses berbagai fasilitas dan produk keuangan yang dimiliki PT BCA Syariah di mana saja cukup dengan smartphone. Mulai dari fasilitas pembiayaan seperti emas, KPR, kendaraan bermotor hingga multijasa kini makin mudah dijangkau.

Untuk pembiayaan emas, PT BCA Syariah kini semakin mempermudah akses nasabah dimana pengajuan pembiayaan kini dapat dilakukan sepenuhnya secara digital melalui fitur Emas iB di aplikasi BSya.
“Emas tetap menarik sebagai instrumen investasi jangka panjang, karena itu kami permudah pengajuan pembiayaan emas yang kini dapat dilakukan melalui fitur Emas iB di aplikasi BSya dan untuk memperluas akses, perseroan menurunkan minimum pembiayaan emas menjadi 5 gram dari sebelumnya 10 gram,” ujar Pranata.
Sementara itu, dari sisi kinerja, BCA Syariah mencatatkan laporan kinerja positif di lini lini pembiayaan kepemilikan aset, khususnya untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang naik 24 persen dan pembiayaan kendaraan bermotor yang tumbuh 32 persen.
Catatan impresif ini terekam dengan jelas hingga periode Agustus tahun 2026. Berdasarkan data perusahaan, pembiayaan untuk kepemilikan rumah (KPR) tumbuh secara solid sebesar 24,17 persen, dengan mencatatkan total pembiayaan hingga Rp1.784 miliar.
“Pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa skema KPR syariah—yang menawarkan kepastian angsuran dan kejelasan akad—semakin menjadi pilihan utama keluarga Indonesia dalam mewujudkan kepemilikan rumah idaman mereka,” jelas Pranata.
Tren peningkatan yang serupa juga terlihat pada sektor otomotif. Pembiayaan kendaraan bermotor di BCA Syariah tercatat melesat 32,59 persen menjadi Rp78 miliar.
“Pertumbuhan di kedua sektor ini menegaskan posisi BCA Syariah sebagai mitra finansial yang andal dalam mendukung masyarakat untuk memiliki aset jangka panjang. Ke depan, perusahaan akan terus menyempurnakan layanannya agar proses pengajuan menjadi lebih cepat dan sesuai dengan prinsip syariah” papar Pranata.*


