Seni dan Isu Lingkungan Bertemu, Dosen ISI Yogyakarta Pamerkan Karya di Vietnam Berbahan Limbah Kayu Jati

oleh -2 Dilihat
Suasana Pameran Seni di Vietnam
Suasana Pameran Seni di Vietnam

KILASJATENG.ID – Karya seni dari akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta mendapat kesempatan tampil dalam pameran seni rupa internasional di Ho Chi Minh City, Vietnam. Pameran bertajuk Convergence: Varied in Visual  Unity in Vision tersebut mempertemukan seniman akademisi dari sejumlah negara Asia.

Kegiatan berlangsung di Artspace Gallery, Ho Chi Minh City University of Fine Arts, pada 18 Desember 2024 hingga 8 Januari 2025 lalu. Pameran ini digelar oleh Ho Chi Minh City University of Fine Arts bersama aliansi Group of Arts 9 (GoA 9), yang beranggotakan enam institusi seni dari Thailand dan tiga institusi seni dari Vietnam.

Para seniman akademisi yang berpartisipasi datang dari lima negara, yakni Laos, Korea Selatan, Indonesia, Vietnam, dan Thailand. Kehadiran mereka menjadi ruang pertemuan berbagai latar budaya sekaligus memperlihatkan keragaman pendekatan dalam penciptaan karya seni rupa.

Dari Indonesia, peserta pameran berasal dari Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta serta FSRD Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Enam dosen dari Jurusan Kriya FSR ISI Yogyakarta turut ambil bagian. Mereka adalah Yulriawan Dafri, Arif Suharson, Alvi Lufiani, Anna Galuh, Sugeng Wardoyo, dan Aruman.

Baca Juga  Batik Kontemporer ISI Yogyakarta Tampilkan Sisi Mistis Bali di Pameran Seni Internasional Shanghai

Salah satu karya yang mencuri perhatian dalam pameran tersebut adalah karya Yulriawan Dafri. Seniman sekaligus staf pengajar ISI Yogyakarta itu mengangkat isu sustainability atau keberlanjutan melalui eksplorasi material.

Yulriawan memanfaatkan limbah kayu jati sebagai material utama. Kayu sisa tersebut diolah menggunakan teknik pembubutan hingga menghasilkan bentuk geometris menyerupai silinder atau pipa.

Eksplorasi kemudian dikembangkan dengan memadukan kayu bekas tersebut dengan potongan pipa berbahan stainless steel. Perpaduan dua material ini menghasilkan karakter visual yang saling bertolak belakang, tetapi justru membentuk kesatuan estetis.

A Silver Lining Karya Yulriawan Dafri Dosen ISI Yogyakarta
A Silver Lining Karya Yulriawan Dafri Dosen ISI Yogyakarta

Kayu memberikan kesan hangat, alami, dan organik melalui warna serta seratnya. Sementara itu, stainless steel menghadirkan karakter yang lebih modern, industrial, keras, dingin, dan reflektif.

Eksplorasi tersebut menunjukkan bahwa material yang semula dianggap sebagai limbah masih dapat memiliki nilai artistik ketika diolah melalui pendekatan kriya. Karya tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga membawa pesan mengenai pentingnya pemanfaatan kembali material yang sudah tidak digunakan.

Pameran di Vietnam tersebut tidak hanya menjadi ajang untuk memamerkan karya. Para delegasi dari negara peserta juga mengikuti pertemuan internal untuk membahas peluang kerja sama di bidang pendidikan dan seni.

Baca Juga  Gus Ipul Tekankan Tiga Pilar Kepemimpinan Kepala Sekolah Rakyat

Sejumlah bentuk kolaborasi yang dibicarakan antara lain riset bersama, pameran lintas negara, workshop, hingga simposium. Pertemuan ini sekaligus menjadi upaya memperkuat hubungan antar-institusi seni di kawasan Asia.

Rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan campus tour, art class, dan cultural tour. Agenda tersebut memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mengenal lingkungan akademik, praktik seni, serta budaya di Vietnam secara lebih dekat.

Keikutsertaan dosen FSR ISI Yogyakarta dalam pameran internasional ini sekaligus memperluas ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman di bidang seni rupa. Karya yang dibawa ke Vietnam menunjukkan bahwa praktik kriya tidak hanya berbicara tentang keterampilan mengolah material, tetapi juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan isu lingkungan dan keberlanjutan.

Melalui forum seperti ini, karya seni menjadi jembatan untuk mempertemukan gagasan, budaya, dan perspektif dari berbagai negara. Perbedaan pendekatan visual pun dapat bertemu dalam satu visi yang sama, sesuai dengan semangat Convergence: Varied in Visual  Unity in Vision.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News