Bocah 13 Tahun Asal Yogyakarta Tampil di Grand Final FFNS 2026 Fall, Siap Harumkan Daerah

oleh -2 Dilihat
Muhammad Ahnaf Ramadhan Kurnia (Player Borneo Hilang Arah) didampingi Aley Hidira Suseno (Kapten Borneo Hilang Arah), Rayi Rahman Hakim (Coach Borneo Hilang Arah), Muslih Wahyudi Rachman (Pelatih Timnas Free Fire SEA Games 2021 dan 2025) dan Ahmad Fadhli Masturoh (Pelatih Free Fire ONIC Esports)
Muhammad Ahnaf Ramadhan Kurnia (Player Borneo Hilang Arah) didampingi Aley Hidira Suseno (Kapten Borneo Hilang Arah), Rayi Rahman Hakim (Coach Borneo Hilang Arah), Muslih Wahyudi Rachman (Pelatih Timnas Free Fire SEA Games 2021 dan 2025) dan Ahmad Fadhli Masturoh (Pelatih Free Fire ONIC Esports)

KILASJATENG – Yogyakarta menjadi pusat perhatian pecinta esports nasional setelah Garena Indonesia menggelar Grand Finals Free Fire Nusantara Series (FFNS) 2026 Fall di Grha Sabha Pramana (GSP) Universitas Gadjah Mada, Minggu (12/7). Turnamen bergengsi ini sekaligus menjadi bagian dari perayaan Pesta 9 Free Fire, yang dikemas sebagai festival rakyat terbuka bagi masyarakat.

Untuk pertama kalinya, Grand Final FFNS diselenggarakan di Kota Gudeg. Momen tersebut menjadi semakin istimewa karena bertepatan dengan ulang tahun ke-9 Free Fire, sehingga Garena memadukan kompetisi esports dengan berbagai aktivitas hiburan, kuliner, musik, hingga wahana permainan yang dapat dinikmati seluruh pengunjung secara gratis.

Game Producer Garena Free Fire Indonesia, Christiandy Franciscus, mengatakan penyelenggaraan di Yogyakarta merupakan bentuk apresiasi terhadap perjalanan panjang komunitas Free Fire di Indonesia.

“Untuk pertama kalinya kami membawa Grand Finals FFNS ke Yogyakarta dan bertepatan dengan perayaan Pesta 9 Free Fire. Ini bukan sekadar mencari juara nasional, tetapi juga merayakan perjalanan para pemain, komunitas, serta talenta lokal yang selama sembilan tahun telah membangun ekosistem Free Fire di Indonesia,” ujarnya.

Menurut Christiandy, antusiasme komunitas Free Fire di Yogyakarta menjadi salah satu alasan dipilihnya kota tersebut sebagai tuan rumah. Selain memiliki komunitas yang besar dan aktif, Yogyakarta juga dikenal memiliki kreativitas dan kekayaan budaya yang kuat sehingga dinilai cocok menjadi lokasi penyelenggaraan festival esports berskala nasional.

Ia menambahkan, Garena terus berkomitmen mendekatkan ekosistem Free Fire kepada komunitas di berbagai daerah, tidak hanya berpusat di Jakarta.

“Kami ingin Free Fire hadir lebih dekat dengan komunitas. Selama sembilan tahun kami tumbuh bersama para pemain, sering menggelar gathering, bermain bersama, dan menjunjung nilai-nilai positif dalam komunitas. Karena itu kami bangga bisa menghadirkan Pesta 9 Free Fire di Yogyakarta,” katanya.

Perebutkan Tiket ke Kejuaraan Asia Tenggara

Grand Final FFNS 2026 Fall mempertemukan 12 tim terbaik hasil seleksi nasional. Mereka memperebutkan gelar juara Indonesia, hadiah total Rp850 juta, sekaligus satu tiket sebagai wakil kelima Indonesia menuju Free Fire World Series Southeast Asia (FFWS SEA) 2026 Fall yang akan berlangsung pada Agustus mendatang.

Pelatih Tim Nasional Free Fire SEA Games 2021 dan 2025, Muuslih Wahyudi Rachman, menjelaskan seluruh peserta telah melalui proses seleksi berjenjang dari berbagai regional di Indonesia.

“Turnamen ini merupakan puncak kompetisi nasional. Tim-tim terbaik dari berbagai daerah berhasil lolos melalui babak kualifikasi dan hari ini bertanding memperebutkan kesempatan tampil di level internasional,” jelasnya.

Adapun 12 tim yang bertanding meliputi:

XOXO Pride (Klaten)

Strength GRT (Palu)

Jiggle (Jambi)

MBR Omega (Jakarta)

Kagendra (Depok)

Borneo Hilang Arah (Banjarbaru)

Gokil Jo Noh (Manado)

Elang Esport (Bangka)

Petigade (Garut)

Shadow Esports (Jakarta)

Dewa United Horus (Jakarta)

Pandora Esports (Makassar)

Penyelenggaraan FFNS di Yogyakarta juga menjadi sejarah baru. Kota ini menjadi daerah keenam yang dipercaya menjadi tuan rumah turnamen nasional Free Fire setelah Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, dan Palembang.

Talenta Muda Yogyakarta Curi Perhatian

Selain persaingan antar tim, Grand Final FFNS 2026 Fall juga menghadirkan kisah inspiratif dari Muhammad Ahnaf Ramadhan Kurnia atau AHNAFEIEI, pemain Borneo Hilang Arah asal Yogyakarta.

Di usia yang baru menginjak 13 tahun, Ahnaf menjadi peserta termuda dalam Grand Final FFNS 2026 Fall. Siswa SMP IT Masjid Syuhada tersebut berhasil menembus panggung nasional dan dipercaya memperkuat Borneo Hilang Arah.

Kapten Borneo Hilang Arah, Aley Hidira Suseno, bersama pelatih tim Rayi Rahman Hakim, menilai Ahnaf menjadi bukti bahwa talenta esports dari daerah mampu bersaing dengan pemain-pemain terbaik Indonesia.

Menariknya, prestasi Ahnaf tidak hanya terlihat di dunia esports. Di tengah kesibukannya menjalani latihan dan kompetisi, ia tetap mampu mempertahankan prestasi akademik dengan konsisten masuk 10 besar di sekolahnya.

Kisah Ahnaf menjadi gambaran bahwa karier di dunia esports dapat berjalan seiring dengan pendidikan apabila dijalani secara disiplin dan bertanggung jawab.

Garena Perluas Pembinaan Komunitas

Selain kompetisi profesional, Garena juga terus memperkuat pembinaan komunitas melalui program Free Fire Community Area (FFCA).

Christiandy mengungkapkan saat ini Garena telah membina komunitas di hampir 200 kota di Indonesia. Ke depan, jumlah tersebut akan terus diperluas.

Melalui program tersebut, komunitas dapat mendaftarkan diri secara resmi untuk memperoleh berbagai bentuk dukungan, mulai dari penyelenggaraan turnamen lokal, pendampingan kegiatan komunitas, hingga dukungan penyelenggaraan acara oleh event organizer.

Program ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak talenta baru dari berbagai daerah yang nantinya dapat bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Pesta 9 Free Fire Hadirkan Festival Rakyat

Tak hanya menyuguhkan pertandingan esports, Garena juga menghadirkan Pesta 9 Free Fire yang mengubah kawasan GSP UGM menjadi arena hiburan bagi seluruh masyarakat.

Sebelum puncak acara, Garena menghadirkan instalasi Kabin Pesawat Free Fire di Teras Malioboro sejak 3 Juli. Instalasi tersebut menawarkan berbagai aktivitas interaktif seperti arena mabar, AI Scan Player Card, hingga photobox bertema Free Fire.

Sementara di Lapangan Pancasila GSP UGM, pengunjung dapat menikmati berbagai wahana permainan seperti bianglala, bull riding, area cosplay, bazar kuliner khas Yogyakarta, hingga penampilan musik dari Orkes Pensil Alis dan Ndarboy Genk.

Menurut Christiandy, konsep festival ini sengaja dihadirkan agar Free Fire tidak hanya menjadi sebuah permainan, tetapi juga ruang berkumpul bagi komunitas dan masyarakat.

“Melalui Pesta 9 Free Fire kami ingin membawa pengalaman bermain keluar dari dalam game. Pengunjung bisa menikmati komunitas, musik, kuliner, festival rakyat, hingga berbagai aktivitas bersama sehingga Free Fire benar-benar menjadi ruang berkumpul yang menyenangkan,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News