KILASJATENG.ID- Pemerintah Kabupaten Boyolali kembali menggelar tradisi Buka Luwur Makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi di Kompleks Makam Pantaran, Desa Candisari, Kecamatan Gladagsari, Jumat 10 Juli 2026. Ritual yang digelar setiap Jumat pada pekan ketiga bulan Muharam atau Sura ini menjadi upaya melestarikan budaya sekaligus menghormati jasa para leluhur.
Prosesi diawali kirab luwur, songsong, bunga, sesaji, dan enam gunungan hasil bumi yang dikawal Pasukan Keraton Kasunanan Surakarta. Setelah prosesi serah terima, Bupati Boyolali Agus Irawan bersama Forkopimda dan juru kunci melakukan penggantian kain penutup makam serta tabur bunga di makam Syech Maulana Ibrahim Maghribi.
Bupati Boyolali, Agus Irawan, mengatakan tradisi tersebut merupakan bentuk nguri-uri budaya yang harus diwariskan kepada generasi penerus.
“Tradisi ini harus terus kita lestarikan dan diwariskan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa bagi Boyolali,” ujarnya.
Plt. Kepala Disporapar Boyolali, Candra Irawan, menambahkan tradisi Buka Luwur juga menjadi bagian dari pengembangan wisata budaya dan religi di Boyolali.
“Ke depan kami akan mengembangkan sejumlah destinasi wisata budaya, religi, dan alam agar menjadi agenda tahunan yang lebih besar,” katanya.
Sebelum ritual Buka Luwur, masyarakat juga menggelar tradisi Sedekah Tuk Tempuran, sebagai ungkapan syukur sekaligus ajakan menjaga kelestarian dua mata air Sipendok dan Simuncar yang menjadi sumber kehidupan warga.
Ketua Dewan Kesenian Boyolali, Harnowo, mengatakan tradisi tersebut diharapkan terus dilestarikan sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus kepedulian terhadap sumber daya air untuk generasi mendatang.


