KILASJATENG.ID– Fenomena minimnya jumlah peserta didik baru kembali terjadi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Pada tahun ajaran 2026/2027, SD Negeri Cepokosawit 2, Kecamatan Sawit, hanya menerima satu siswa baru untuk kelas I.
Kondisi tersebut menjadi potret menurunnya jumlah anak usia sekolah dasar di sejumlah wilayah Boyolali. Selain dipengaruhi keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) yang menekan angka kelahiran, tren orang tua menyekolahkan anak ke sekolah full day berbasis agama juga ikut memengaruhi jumlah pendaftar di sekolah negeri.
Guru kelas I SD Negeri Cepokosawit 2, Andriyani Mudrikah, mengatakan satu-satunya siswa baru tahun ini bernama Khanza.
Pihak sekolah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk mencari peserta didik, mulai dari sosialisasi ke taman kanak-kanak hingga mendatangi rumah-rumah warga.
“Kami sudah sosialisasi ke TK, bahkan melakukan jemput bola door to door ke rumah warga. Namun jumlah anak usia masuk SD memang sangat sedikit. Lulusan TK di wilayah sini hanya empat anak dan sebagian memilih sekolah full day berbasis agama,” ujar Andriyani.
Akibat kondisi tersebut, jumlah siswa di SD Negeri Cepokosawit 2 dari kelas I hingga kelas VI kini hanya 25 orang.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Boyolali, Dwi Hari Kuncoro, membenarkan fenomena tersebut tidak hanya terjadi di satu sekolah.
Menurutnya, banyak SD negeri bahkan SMP di Boyolali yang mengalami kekurangan peserta didik pada tahun ajaran baru 2026.
“Memang banyak sekolah yang menerima siswa baru dalam jumlah sedikit. Selain karena jumlah anak usia sekolah menurun, ada kecenderungan orang tua, terutama dari kalangan menengah, memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah full day berbasis agama,” jelas Dwi Hari Kuncoro.
Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Boyolali mulai menyiapkan langkah regrouping atau penggabungan sekolah yang jumlah siswanya terus menurun. Kebijakan itu dinilai menjadi salah satu solusi untuk menjaga efektivitas proses belajar mengajar, meski berpotensi membuat sebagian siswa harus menempuh jarak yang lebih jauh menuju sekolah.
Fenomena ini menjadi tantangan baru bagi dunia pendidikan, terutama bagi sekolah negeri di daerah yang kini harus beradaptasi dengan perubahan demografi dan pergeseran preferensi masyarakat dalam memilih lembaga pendidikan.(*)


