KILASJATENG.ID– Pemerintah Kota (Pemkot) Solo berkolaborasi dengan United Nations Development Programme (UNDP) dan Clean River menggelar soft launching program #SungaiLestari di Pendapa Kecamatan Laweyan, Jumat 10 Juli 2026
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Solo, Herwin Tri Nugroho Adi mengatakan, program #SungaiLestari ini menjadi langkah kolaboratif untuk mengurangi pencemaran sampah di Kali Premulung sekaligus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Program ini difokuskan pada penanganan sampah di aliran Sungai Premulung yang melintasi Kecamatan Laweyan hingga Serengan. Jadi nantinya akan dipasang trash boom untuk menjaring sampah di hulu Sungai Premulung dan sampah yang terjaring akan diolah. Jadi, selain membersihkan sampah yang telah masuk ke sungai, program ini juga menyasar pengurangan sampah rumah tangga dari kawasan sekitar agar tidak lagi berakhir di aliran sungai,” ujarnya.
Ia menambahkan, karena jaring dipasang di hulu Sungai Premulung maka sasaran dari kegiatan ini adalah pengurangan sampah di Kecamatan Laweyan dan Serengan.
“Target kami melalui program ini bisa mengurangi 1.000 ton sampah yang masuk ke TPA Putri Cempo. Trash boom sendiri tidak hanya berfungsi mengumpulkan sekaligus mengukur volume sampah yang terbawa arus sehingga menjadi dasar penyusunan strategi edukasi kepada masyarakat,” paparnya.
Herwin menjelaskan, data yang diperoleh nantinya akan digunakan untuk menyusun program sosialisasi yang lebih terarah guna mengubah perilaku masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.
“Kami ingin mengetahui berapa banyak sampah yang sebenarnya dibuang ke sungai. Dari data itu nanti edukasi bisa dilakukan lebih terukur sehingga terjadi perubahan perilaku masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, sungai yang bersih tidak hanya berdampak pada kualitas lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat. Menurutnya, kualitas air yang lebih baik dapat membantu menekan berbagai penyakit berbasis lingkungan.
Dalam pelaksanaannya, sampah yang berhasil diangkat dari sungai tidak akan langsung dibuang ke TPA Putri Cempo namun akan dipilah dan diolah oleh mitra pelaksana sebagai bagian dari konsep ekonomi sirkular.
“Melalui skema ini diharapkan mampu menambah sekitar 5 persen pengurangan sampah yang selama ini dikirim ke TPA Putri Cempo,” harapnya.
Sementara itu, National Project Manager UNDP sekaligus Koordinator Sekretariat Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut, Ahmad Bahri Rambe mengatakan, Program #SungaiLestari merupakan inisiatif UNDP bersama Clean River yang didukung Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Kementerian Lingkungan Hidup, serta pemerintah daerah.
“Program ini dilaksanakan di Kota Solo, Surabaya, Sidoarjo, Bekasi dan Bali sebagai proyek percontohan pengelolaan sampah sungai di Indonesia. Kami berharap lima lokasi ini menjadi model bagi 514 kabupaten dan kota di Indonesia dalam menerapkan pengelolaan sampah yang lebih baik,” kata Bahri.
Ia menjelaskan program tidak hanya berfokus pada pengangkatan sampah di sungai, tetapi juga mencegah sampah dari daratan masuk ke aliran sungai hingga bermuara ke laut.
“Program yang direncanakan berlangsung hingga 2027 itu menerapkan pendekatan performance-based, di mana organisasi masyarakat sipil yang menjadi mitra akan dievaluasi berdasarkan capaian kinerjanya dan memperoleh insentif apabila berhasil memenuhi target. Karena itu, dalam implementasinya, UNDP menggandeng komunitas lingkungan, bank sampah, relawan, serta masyarakat setempat untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berbasis partisipasi warga,” pungkasnya.*


