KILASJATENG.ID— Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menggelar Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-55 bersamaan dengan GEOSEA XIX Convention & Exhibition 2026 pada 2–5 November 2026 di Royal Ambarrukmo, Yogyakarta. Forum ini berfokus pada penyelarasan pengelolaan sumber daya geologi, mitigasi bahaya geologi, dan pelestarian warisan geologi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Mengusung tema “Harmonizing Georesources, Geohazard and Heritage Conservation to Promote Sustainable Development”, kegiatan ini mempertemukan ahli geologi, peneliti, akademisi, regulator, dan pelaku industri dari Indonesia serta Asia Tenggara.
Pembahasan utama mencakup pemanfaatan sumber daya mineral dan energi, penguatan ketahanan energi, pengurangan risiko bencana geologi, serta perlindungan lingkungan dan geoheritage. Melalui forum ilmiah dan diskusi industri, IAGI mendorong pemanfaatan ilmu geologi untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus mendukung kebijakan publik yang berkelanjutan.
Agenda kegiatan meliputi sesi pleno bersama Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM dan Kepala SKK Migas, serta CEO Talks yang menghadirkan pimpinan industri mineral dan batu bara, minyak dan gas bumi, serta panas bumi. Forum ini juga mencakup presentasi hasil penelitian, pameran teknologi kebumian, dan publikasi ilmiah.
Ketua Umum Pengurus Pusat IAGI, STJ Budi Santoso, mengatakan forum ini menjadi ruang untuk menyatukan pengetahuan, pengalaman lapangan, dan inovasi geologi agar menghasilkan gagasan yang dapat diterapkan dalam pengelolaan sumber daya alam, mitigasi bencana, dan pembangunan berkelanjutan.
Dalam rangkaian acara tersebut, IAGI juga meluncurkan Indonesian Society for Geothermal Geology (ISGG) serta buku mengenai air tanah dan geoheritage. Selain itu, IAGI juga memprakarsai pembangunan Monumen Arie Frederik Lasut di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada yang peletakan batu pertama akan dilaksanakan pada 4 November 2026 sebagai bentuk penghormatan terhadap perintis geologi dan pertambangan Indonesia.
Melalui PIT ke-55 dan GEOSEA XIX, IAGI berharap kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri dapat memperkuat kontribusi geosains dalam pengelolaan sumber daya alam, pengurangan risiko bencana, dan pelestarian warisan geologi.
