Dugaan Keracunan MBG di Boyolali, Sekolah Hentikan Program dan Tuntut Pertanggungjawaban 

oleh -1 Dilihat

KILASJATENG.ID – Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa belasan siswa PAUD Kid Fun Education di Desa Gagak Sipat, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, berbuntut panjang.

Kuasa hukum korban mengancam akan menempuh jalur hukum pidana maupun perdata jika pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak segera memberikan pertanggungjawaban.

Kuasa hukum korban, M. Badrus Zaman, mengatakan pihaknya telah melayangkan pengaduan resmi kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Boyolali. Pengaduan tersebut juga ditembuskan kepada 10 instansi, mulai dari pemerintah daerah hingga Presiden RI.

Badrus meminta pengelola MBG, khususnya SPPG Gagak Sipat 5, segera membuka komunikasi dengan pihak sekolah, guru, dan wali murid.

“Kami minta pengelola MBG segera membuka komunikasi dan memberikan pertanggungjawaban. Jika tidak ada tindak lanjut, kami akan menempuh upaya hukum pidana maupun perdata,” tegas Badrus, Rabu (4/11/2026).

Baca Juga  Merefresh Nilai Sejarah, GSI Gelar Malam Refleksi Menuju 100 Tahun Soempah Pemoeda 

Ia menambahkan, dugaan keracunan tersebut diperkuat hasil pemeriksaan laboratorium awal dari rumah sakit dan Dinas Kesehatan. Namun, hasil pemeriksaan itu sejauh ini baru disampaikan secara lisan.

Sementara itu, pengelola PAUD Kid Fun Education, Dewi Ritaningsih, menyebut jumlah siswa yang mengalami gejala keracunan terus bertambah setelah menyantap menu MBG.

Dari total 46 siswa penerima program, awalnya 11 anak mengalami gejala serupa. Namun, dalam dua hingga tiga hari berikutnya, jumlah siswa terdampak meningkat hingga lebih dari separuh total penerima.

Gejala yang dialami siswa antara lain demam tinggi, muntah-muntah, pusing, dan badan lemas. Saat itu, menu yang disajikan terdiri dari nasi, olahan filet lele, sayuran, dan buah-buahan.

Dewi mengungkapkan, berdasarkan informasi awal dari pihak Puskesmas, pemeriksaan laboratorium menemukan bakteri pada sampel air bersih dan olahan ikan lele.

“Hasil laboratorium yang disampaikan pihak Puskesmas menyebutkan positif ditemukan bakteri pada sampel air bersih dan olahan lelenya,” ungkap Dewi.

Baca Juga  Tokoh Solo Raya Serukan Perdamaian dan Kenyamanan Masyarakat 

Ia juga menyebut persoalan kebersihan makanan dari penyedia MBG sebenarnya sudah beberapa kali ditemukan pihak sekolah. Di antaranya ulat pada wadah makan atau ompreng hingga pada daun selada.

Temuan tersebut, menurut Dewi, telah berulang kali dilaporkan kepada pengelola, tetapi belum ada perbaikan konkret.

Akibat kejadian ini, pihak sekolah dan seluruh wali murid sepakat menghentikan sementara penerimaan program MBG.

Keputusan tersebut diambil karena para siswa mengalami trauma, sementara orang tua masih mengkhawatirkan keamanan makanan yang diberikan.

Program MBG di sekolah itu baru akan diterima kembali setelah ada jaminan keamanan pangan dan evaluasi menyeluruh serta transparan dari pihak berwenang.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News