KILASJATENG.ID — Apa yang terjadi setelah seorang kreator mengikuti pelatihan, menyelesaikan karya, atau memperoleh sertifikat? Bagi sebagian pegiat ekonomi kreatif, Bukan Sekadar Data, RUPA SATRIA Siapkan Jalan Talenta Kreatif Jogja Menuju Pasar berikutnya justru lebih besar: menemukan pendamping yang tepat, memperluas jejaring, hingga membawa karya bertemu pasar. Keterampilan telah dimiliki, tetapi jalan menuju kesempatan belum tentu terbuka.
Situasi itulah yang ingin dijawab melalui RUPA SATRIA, singkatan dari Sistem Akselerasi Talenta, Rekam Jejak, Inkubasi, dan Akses Ekonomi Kreatif DIY. Inovasi ini digagas Iwan Pramana, S.P., M.Ec.Dev., MIDS, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY, sebagai Aksi Perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan III Tahun 2026.
RUPA SATRIA membawa gagasan bahwa pembinaan kreator perlu dilihat sebagai sebuah perjalanan, bukan rangkaian kegiatan yang terputus. Seorang talenta bukan sekadar nama pada daftar hadir. Ia memiliki kemampuan, pengalaman proyek, portofolio, kebutuhan belajar, dan arah usaha yang dapat berubah dari waktu ke waktu.
“Selama ini, data pelatihan, sertifikasi, karya, dan pengalaman talenta berpotensi tersimpan pada sumber yang berbeda. Akibatnya, potensi kreator belum selalu terbaca secara utuh. Program yang sama bisa saja kurang relevan bagi peserta dengan kebutuhan berbeda. Kreator pemula perlu penguatan dasar; talenta yang telah siap berproduksi mungkin justru memerlukan inkubasi, perlindungan kekayaan intelektual, atau pertemuan dengan calon mitra industri.
Untuk membenahi kondisi tersebut, RUPA SATRIA dirancang melalui tiga fondasi.
Pertama, satu data talenta yang memuat profil, subsektor, kompetensi, portofolio, dan riwayat fasilitasi. Kedua, pemetaan kompetensi dan rekam jejak guna mengenali potensi serta kesenjangan keterampilan. Ketiga, pendampingan terstruktur yang menghubungkan hasil pemetaan dengan pelatihan, sertifikasi, inkubasi, kesempatan proyek, pembiayaan, serta akses pasar.
Bayangkan seorang animator yang sudah memiliki karya dan pengalaman produksi. Ia mungkin tidak lagi membutuhkan kelas pengenalan perangkat lunak, tetapi membutuhkan akses ke studio, mentor produksi, atau jejaring proyek. Sementara itu, pegiat fesyen yang baru merintis usaha membutuhkan arahan berbeda, mulai dari penguatan desain hingga pengelolaan bisnis. RUPA SATRIA diharapkan membantu membaca perbedaan tersebut agar pembinaan lebih sesuai kebutuhan.
Inovasi ini juga menempatkan kolaborasi sebagai penggerak. Perguruan tinggi dan lembaga pelatihan dapat berperan dalam penguatan kompetensi; komunitas dan asosiasi dalam pengenalan serta jejaring talenta; dunia usaha dan industri dalam membuka kebutuhan proyek; sedangkan lembaga sertifikasi dan pembiayaan mendukung tahap pengembangan selanjutnya.
Di lingkungan Dinas Pariwisata DIY, keberadaan Jogjakarta Creative Hub serta layanan fasilitasi kekayaan intelektual melalui Balai Pengelolaan Kekayaan Intelektual menjadi potensi dukungan yang dapat disinergikan. Tujuannya bukan membangun layanan yang berdiri sendiri, melainkan mempertemukan talenta dengan fasilitas dan mitra yang memang mereka perlukan.
Pada tahap awal, RUPA SATRIA memprioritaskan penguatan tata kelola, standar data, instrumen pemetaan, dan identifikasi talenta pada subsektor pilihan. Pengembangan berikutnya diarahkan pada peningkatan kualitas data, perluasan jejaring, serta pemanfaatannya untuk pengambilan keputusan yang lebih tepat sasaran. Keberhasilannya kelak perlu dinilai dari kesinambungan proses dan manfaat yang benar-benar diterima talenta, bukan sekadar jumlah kegiatan yang terselenggara.
Bagi pemerintah, ukuran kinerja yang ingin diperkuat bukan hanya jumlah peserta pelatihan, tetapi juga perkembangan kompetensi dan keterhubungan talenta dengan peluang kerja maupun usaha. Bagi pegiat kreatif, harapannya sederhana: setiap karya dan pengalaman tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi menjadi bekal untuk kesempatan berikutnya.
Ke depan, RUPA SATRIA diarahkan menjadi penghubung antara kebutuhan pegiat kreatif dan dukungan yang tersedia di ekosistem ekonomi kreatif DIY. Asosiasi, komunitas, kampus, pelaku industri, serta lembaga pembiayaan diharapkan dapat berkolaborasi sesuai perannya. Melalui kerja sama tersebut, pendataan diharapkan berlanjut menjadi pengembangan kapasitas, penguatan portofolio, dan akses terhadap peluang ekonomi yang lebih luas.
Melalui RUPA SATRIA, Yogyakarta ingin memperkuat posisinya bukan hanya sebagai tempat lahirnya kreativitas, tetapi juga sebagai ruang tumbuh bagi para penciptanya. Semangat itu dirangkum dalam satu seruan: “DATA MENGHUBUNGKAN, TALENTA MENGGERAKKAN, KREATIVITAS MENYEJAHTERAKAN.
