Soft Launching: 77 Tahun Perjalanan MUHI Dirangkum dalam Buku MUHI untuk Negeri

oleh -2 Dilihat
Ketua IKA Muhi Ida Pujiastuti

KILASJATENG.ID – Perjalanan panjang SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (MUHI) tidak hanya tersimpan dalam ingatan para alumninya. Sejarah, pengalaman, prestasi, hingga kontribusi para lulusan MUHI kini dihimpun dalam sebuah buku berjudul “MUHI untuk Negeri: Sejarah, Alumni, Sumbangsih”.

Buku yang diterbitkan LaksBang Akademika ini merupakan hasil kerja bersama Ikatan Alumni SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (IKAMUHI) dan MUHI. Buku tersebut dijadwalkan terbit pada September 2026 dan menjadi upaya untuk merawat ingatan kolektif tentang perjalanan salah satu lembaga pendidikan Muhammadiyah di Yogyakarta.

Buku setebal xxviii, 418 halaman dengan ukuran 21 x 29 sentimeter itu ditulis oleh empat jurnalis yakni Fernan Rahadi, jurnalis Republika sekaligus alumni MUHI 2003; Arif Koes Hernawan, mantan jurnalis Gatra yang kini menjadi penulis lepas; Latief Noor Rochmans, jurnalis Kedaulatan Rakyat; serta Rahajeng Kartika Anindita Pramesi, jurnalis Beritajatim.

_Soft launcing_ buku tersebut bersaman dengan  peringatan milad ke-77 MUHI di Sportorium UMY Yogyakarta, Rabu (23/9/2026).

Ketua Tim Penulis, Fernan Rahadi menuturkan selama lebih dari tiga bulan, tim penulis menghubungi alumni, mewawancarai, dan menyajikannya ke dalam artikel menarik.

“Namun tidak semuanya berjalan mulus, ada nomor telepon yang tak dapat dihubungi, narasumber yang tak bisa ditemui, hingga alumni yang enggan diwawancarai dan dipublikasikan. Dalam pengumpulan foto-foto pun tak kalah tantangannya, perburuan foto berlangsung hingga akhir tenggat naik cetak,” jelasnya.

Dalam proses penyusunan, konsep buku berkembang menjadi dokumentasi mengenai sejarah sekolah, perjalanan alumni, serta berbagai bentuk sumbangsih mereka bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Lebih dari 120 narasumber diwawancarai untuk menyusun buku tersebut. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari alumni, kepala sekolah dan guru, mantan kepala sekolah dan mantan guru, pembina kegiatan ekstrakurikuler, pegiat sekolah, hingga keluarga dari sejumlah tokoh yang pernah menjadi bagian dari perjalanan MUHI.

Rentang alumni yang menjadi narasumber juga mencakup lebih dari enam dekade. Hampir seluruh angkatan mendapat ruang dalam proses pengumpulan cerita, mulai dari lulusan 1963 hingga lulusan 2025.

Baca Juga  Perkuat Kompetensi dan Etika Jurnalistik, LKBN ANTARA Gelar Pelatihan di UNS Solo

Salah satu alumni tertua yang diwawancarai adalah Siti Hadiroh, lulusan 1963. Dalam proses penyusunan buku, Siti Hadiroh meninggal dunia.

Tim penulis buku Muhi bersama Wakil Ketua Umum, Adwi  PY Amri
Tim penulis buku Muhi bersama Wakil Ketua Umum, Adwi PY Amri

Para alumni dipilih dengan mempertimbangkan kontribusi mereka di berbagai bidang. Selain kiprah di tingkat lokal maupun nasional, tim penyusun juga mempertimbangkan keterwakilan bidang serta prestasi para alumni, termasuk rekomendasi dan data dari pihak MUHI untuk alumni generasi muda.

Proses penyusunan buku berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Tim penulis harus menghubungi satu per satu narasumber, melakukan wawancara, mengumpulkan dokumentasi, serta menyusun cerita menjadi tulisan yang dapat dibaca lintas generasi.

Di balik proses tersebut, buku MUHI untuk Negeri tidak sekadar dimaksudkan sebagai catatan sejarah sekolah. Buku ini juga menjadi dokumentasi mengenai bagaimana pendidikan membentuk perjalanan hidup para alumninya.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menilai upaya mendokumentasikan sejarah lembaga pendidikan memiliki arti penting dalam menjaga ingatan kolektif.

“Sejarah sebuah lembaga pendidikan akan kehilangan maknanya jika tidak dirawat dan diwariskan,” kata Haedar Nashir.

Menurutnya, buku ini menjadi bagian dari kerja penting IKAMUHI dan MUHI dalam merekam, merawat, sekaligus mewariskan perjalanan panjang MUHI kepada generasi sekarang dan mendatang.

Ketua Umum IKAMUHI Ida Pujiastuti, alumni MUHI 1984, mengatakan buku tersebut lahir dari semangat membangun sinergi antara alumni dan almamater.

Bagi Ida, MUHI tidak hanya berfungsi sebagai institusi pendidikan formal. Sekolah tersebut juga menjadi ruang pembentukan karakter, nilai keimanan, semangat kebangsaan, dan pengabdian.

Sementara itu, Kepala Sekolah MUHI Herynugroho menyebut buku tersebut merekam sebagian perjalanan panjang sekolah, termasuk pengalaman, perjuangan, dan cerita yang dianggap memiliki makna bagi keluarga besar MUHI.

Ia berharap buku tersebut dapat menjadi kenangan sekaligus sumber inspirasi bagi generasi MUHI untuk terus berprestasi dan berkembang.

Pandangan mengenai masa depan MUHI juga disampaikan Busyro Muqoddas, Ketua KPK RI periode 2010-2011 sekaligus alumni MUHI 1971.

Baca Juga  Perkuat Kompetensi dan Etika Jurnalistik, LKBN ANTARA Gelar Pelatihan di UNS Solo

Menurut Busyro, sejarah panjang MUHI menjadi modal untuk menghadapi tantangan pendidikan pada masa kini, termasuk perubahan sosial yang dihadapi generasi Z.

Ia berharap keberadaan buku tersebut turut memperkuat peran alumni dalam mewujudkan MUHI Reborn, yakni MUHI yang kembali pada hakikatnya sebagai institusi yang melahirkan calon pemimpin bangsa dan pembelajar yang terus menuntut ilmu dengan tetap menjunjung kemuliaan akhlak.

Selain memuat sejarah dan profil alumni, buku MUHI untuk Negeri juga menghadirkan sejumlah sosok yang dinilai memiliki kiprah menonjol di bidang masing-masing.

Mereka disebut sebagai Tokoh MUHI karena dinilai telah mencapai puncak kiprah di bidangnya serta memberikan kontribusi di berbagai sektor kehidupan bangsa. Beberapa nama alumni di antaranya Ebiet G Ade (Musisi), Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) Budayawan, Ony Anwar Harsono (Bupati Ngawi Jawa Timur), Prof Amir Hamidy (Ilmuwan), Eros Candra (musisi), Fajar Nugros (sutradara) dan masih banyak lagi.

Proses penyusunan buku melibatkan sejumlah unsur IKAMUHI sebagai tim kurator. Tim tersebut terdiri atas Ketua Umum IKAMUHI Ida Pujiastuti, Wakil Ketua Umum Tri Ismu Husnan P., Adwi PY Amri, Afnan Hadikusumo, Sobirin, serta Tri Kusumo Bawono.

Buku setebal 418 halaman, MUHI untuk Negeri menjadi salah satu upaya untuk membawa kisah perjalanan MUHI keluar dari ingatan personal dan menjadikannya sebagai bagian dari dokumentasi sejarah pendidikan.

Buku ini tidak hanya berbicara mengenai masa lalu. Kisah para alumni dan perjalanan sekolah di dalamnya juga menjadi gambaran mengenai bagaimana sebuah lembaga pendidikan membangun nilai, membentuk karakter, serta mendorong para lulusannya mengambil peran di tengah masyarakat.
Di Indonesia ternyata baru ada 5 SMA yang menerbitkan buku tentang sejarah sekolah dan kiprah alumninya. Sementara MUHI merupakan sekolah swasta satu-satunya.

(***)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News