KILASJATENG.ID– Keterbatasan bukan halangan untuk bisa meraih kesuksesan. Hal itu dibuktikan sendiri oleh Local Hero Banyumas, Mohamad Nurhotim.
Pria 39 tahun itu menuturkan jika kesuksesan yang ia raih hari ini merupakan hasil dari kerja keras dan pantang menyerah selama melewati fase panjang penuh liku.
“Saat itu saya tidak memiliki privilege dan fasilitas, sehingga harus berjuang di tengah keterbatasan. Saya lahir dari keluarga petani di Ciamis, Jawa Barat kemudian merantau ke Purwokerto dengan bermodal mimpi yang besar,”tuturnya saat Ngobrol Inspiratif Bersama Anak Muda di Pendopo Kabupaten Banyumas, Jumat 17 Juli 2026.
Pria yang akrab disapa Otim itu memaparkan, sebelum merantau ia sempat menjadi sales panci usai lulus sekolah sembari menunggu masuk universitas.
Sesampainya di Purwokerto, Otim mengawali kariernya sebagai pekerja di sebuah pusat penjualan telepon seluler di Sri Ratu, Purwokerto saat jeda kuliah.
Namun, karena upah bulanan sebesar Rp300 ribu kala itu tidak mencukupi biaya hidup, ia memutuskan nekat terjun ke dunia usaha mandiri dengan berjualan roti bakar menggunakan modal pinjaman dari kakaknya.
“Kerja sebulan. Nah, karena ternyata gaji untuk hidup di situ nggak cukup, memutuskan untuk apa? Untuk memulai berbisnis, yaitu roti bakar,” jelas dia.
Ujian berat langsung menghantam bisnis pertamanya. Baru berjalan selama tiga bulan, gerobak dagangan kaki limanya yang diparkir di belakang bekas Rumah Makan Indonesia (RMI)—lokasi yang kini menjadi gerai Starbucks—hilang tanpa jejak.
Kehilangan tersebut sempat membuatnya terpukul karena modal usaha dari hutang telah habis, sementara ia juga harus membayar biaya sewa kamar indekos tahunan.
Namun Otim enggan menyerah dan memutar otak. Ia pun mengalihkan uang kos tahunannya sebesar Rp2 juta sebagai uang muka (DP) untuk menyewa sebuah kios seharga Rp4 juta per tahun di depan kampus UIN Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (UIN Saizu), Karangjambu.
Keputusan berisiko tersebut membuatnya terpaksa tidur beralaskan meja PlayStation (PS) bekas di area terbuka bagian belakang kios lantaran tidak lagi memiliki tempat tinggal.
Untuk mengisi kios tersebut, ia meminjam perangkat PlayStation secara bulanan seharga Rp600 ribu per unit, lalu menyewakannya kembali secara harian kepada pelanggan.
Malangnya, nasib buruk kembali menimpa ketika unit PS miliknya dibawa kabur oleh penyewa anak-anak yang memanipulasi identitasnya.
“Dari perjalanan itu sampai di titik ini, kalau saya berhenti, mungkin saya tidak akan berdiri di sini. Pada saat kita tidak punya privilege, kita harus berjuang. Pada saat sekali gagal, usaha lagi. Gagal, usaha lagi, sampai titik darah penghabisan,” pesannya.
Dan kerja keras serta kegigihannya pun akhirnya terbayar saat berbuah hasil yang manis. Otim Grup Indonesia miliknya telah menjadi gurita bisnis yang bergerak di berbagai sektor strategis.
Di lini seluler, perusahaannya mencakup unit usaha grosir dan eceran konter HP, aksesori, pulsa, kartu perdana (menyediakan semua kebutuhan outlet seluler), hingga layanan PPOB (Payment Point Online Bank).
Tidak berhenti di situ, bisnisnya juga sukses merambah ke sektor ritel atau minimarket, perhotelan, serta industri Food and Beverage (F&B) termasuk jaringan coffee shop.
Mimpinya untuk menjadi orang yang bermanfaat pun terwujud seiring keberhasilannya menaungi dan memiliki hingga 100 orang karyawan.
“Alhamdulillah sekarang jadi pengusaha beneran. Kalau 100 karyawan Insyaallah ada, bisa bermanfaat untuk Banyumas,” kata dia.
Selain sibuk mengelola banyaknya usahanya, Otim juga aktif dalam dunia keorganisasian. Saat ini, ia dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Wakil Bendahara Umum (Wabendum) BPC Hipmi Kabupaten Banyumas.
Kepada para peserta, Otim membagikan rumusan sukses yang ia sebut sebagai rumus “BKK”, yaitu Berani, Konsisten, dan Kreatif.
Ia mendorong anak muda untuk memaksimalkan usia muda untuk mengambil risiko tanpa takut gagal.
“Kalau gagal, kita hanya apa? Menanggung keluarga sendiri. Kalau sudah tua, menanggung keluarga. Jadi selama masih muda, berani aja. Nggak usah takut, ya. Terus, K-nya apa? Konsisten,” harap dia.
Otim berpesan agar para perintis usaha fokus pada proses masing-masing dan tidak membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, karena setiap individu memiliki garis waktu kesuksesan yang berbeda.
Sementara itu, selain Otim, sejumlah pemateri lain ada Ketua Komisi Kejaksaan Republik Indonesia, Prof. Pujiyono Suwadi, Kepala Kejaksaan Negeri Purwokerto, Slamet Jaka Mulyana dan Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono.
Selain itu juga ada Pemerhati Pembangunan Jateng, Zulkifli Gayo, Pemberdaya Petani Gula Semut, Akhmad Sobirin dan Perwakilan Bank Jateng Cabang Purwokerto, Supriyadi.
Acara digelar oleh Gerakan Solusi Indonesia bersama dengan Kejaksaan Negeri Purwokerto, Bank Jateng Cabang Purwokerto dan Pemkab Banyumas. Acara dihadiri 100 mahasiswa, siswa, karang taruna, seperti FH Unsoed Purwokerto, Fakultas Syariah UIN Saizu Purwokerto, SMA 1,2 dan 3 Purwokerto, HIPMI Banyumas, karang taruna dan PDM Purwokerto.*


