KILASJATENG.ID– Program Studi Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) sukses menyelenggarakan Lokakarya Kurikulum pada Sabtu (18/4/26). Lokakarya Kurikulum ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya strategis dalam pengembangan kurikulum yang adaptif, relevan, dan berdaya saing global. Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, praktisi, serta alumni guna memberikan perspektif komprehensif terhadap kebutuhan pendidikan tinggi di bidang pertanian.
Narasumber utama, Prof. Dr. Ir. Hadiwiyono, M.P., merupakan Sekretaris Jenderal Asosiasi Profesi PAGI (Perkumpulan Program Studi Agroteknologi / Agroekoteknologi Se-Indonesia) menekankan pentingnya penyesuaian kurikulum dengan regulasi terbaru, khususnya Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025 yang mengarah pada standar internasional, serta Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023 yang mengacu pada standar pendidikan tinggi nasional. Selain itu, kurikulum juga perlu mengakomodasi standar akreditasi seperti LAMPTIP.
“Kurikulum harus mampu mengintegrasikan SDGs, memenuhi standar nasional dan internasional, serta membentuk university value sebagai dasar integritas lulusan,” tegasnya.
Dalam paparannya, beliau menyampaikan bahwa kurikulum terbaru harus mengintegrasikan prinsip-prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) dengan target capaian unggul minimal 3,5, serta membangun university value sebagai dasar integritas lulusan. Sistem penerimaan mahasiswa baru juga perlu menjadi bagian dari perencanaan kurikulum yang terintegrasi.
Dalam sesi kurikulum, Wardoyo, S.P., perwakilan dari Kebun Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura Kledung, turut berpamenyoroti pentingnya penerapan konsep Integrated Farming sebagai bagian dari kebijakan pertanian berkelanjutan yang selaras dengan SDGs, khususnya prinsip zero waste.
“Pendekatan Integrated Farming penting untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis dan kesiapan bersaing, termasuk di pasar ekspor,” jelasnya.
Sementara itu, Agung Setyadi, S.P., merupakan perwakilan dunia industri dari PT Regenerasi Kehidupan Nusantara mengungkapkan bahwa lulusan pertanian saat ini masih menghadapi tantangan dalam kesiapan kerja di lapangan.
“Industri membutuhkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga kreatif, adaptif, dan siap berkontribusi secara nyata,” ungkapnya. Oleh karena itu, perguruan tinggi diharapkan mampu memberikan pembekalan yang lebih aplikatif serta membangun motivasi mahasiswa agar siap menghadapi dunia kerja.
Perspektif alumni disampaikan oleh Sri Devi, S.P. yang menekankan pentingnya pembentukan profil lulusan sebagai komunikator dan agrosociopreneur. Mata kuliah seperti komunikasi pertanian, metodologi penelitian, sosiologi pertanian, dan pengelolaan lahan marjinal dinilai relevan, namun perlu diperkuat dengan praktik langsung di lapangan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa.
Lokakarya ini juga mengakomodasi aspirasi mahasiswa, antara lain perlunya penguatan mata kuliah dan praktikum public speaking, penyesuaian penempatan mata kuliah sebelum kegiatan magang, pengembangan sistem peminatan, peningkatan komunikasi pembelajaran, serta penekanan pada praktik seperti perbanyakan vegetatif melalui kultur jaringan. Selain itu, mahasiswa mengharapkan adanya ruang pembelajaran individu yang lebih luas dalam mata kuliah komunikasi pertanian.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Agroteknologi UMBY berkomitmen untuk menghasilkan kurikulum yang tidak hanya memenuhi standar nasional dan internasional, tetapi juga mampu menjawab tantangan dunia industri dan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.


