KILASJATENG – Puisi tidak hanya hidup dalam lembaran buku. Di tangan para seniman, rangkaian kata dapat menjelma menjadi pertunjukan yang menghadirkan suara, gerak, ekspresi, dan suasana panggung.
Gagasan tersebut menjadi semangat Festival Pertunjukan Puisi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026 yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta. Festival ini mempertemukan 10 finalis terpilih untuk mengeksplorasi cara baru dalam menyampaikan puisi kepada penonton.
Penyair asal Yogyakarta, Dhenok Kristianti, menjadi salah satu seniman yang karyanya diolah dalam festival tersebut. Puisinya yang berjudul “Apa Sumpahmu” dipilih sebagai materi eksplorasi pertunjukan.
Dhenok menyambut baik kesempatan tersebut. Menurut dia, pertunjukan puisi belum menjadi tradisi yang kuat di tengah masyarakat. Selama ini, bentuk yang lebih dikenal adalah dramatisasi dan musikalisasi puisi.
“Saya senang sekali puisi saya dipakai untuk percobaan di Jogja festival pertunjukan puisi karena pertunjukan puisi belum berbudaya, biasanya dramatisasi musikalisasi,” ujar Dhenok.
Ia menilai, sebuah puisi yang hendak dibawakan di atas panggung perlu memiliki kekuatan bunyi dan irama. Unsur tersebut membuat puisi lebih nyaman didengar sekaligus membuka ruang bagi pembaca untuk menghidupkan makna melalui ekspresi.
“Puisi enak untuk dibaca, bukan puisi kamar yang hanya dinikmati di ruang tertutup. Sehingga, ketika dibaca, memungkinkan irama dan rima yang pas sesuai,” katanya.
Dalam festival ini, penilaian peserta mencakup tiga aspek, yakni keaktoran, pemanggungan, dan pemahaman terhadap puisi. Aspek keaktoran dinilai Landung Simatupang, pemanggungan oleh Tortor, sedangkan pemahaman puisi menjadi tanggung jawab Dhenok Kristianti.
Dhenok berharap festival tersebut dapat memicu pembaruan di kalangan seniman sastra Yogyakarta. Ia menyebut Putri Suastini Koster sebagai salah satu sosok yang menginspirasinya karena aktif mengembangkan pembacaan puisi dengan pendekatan pertunjukan.
“Semoga Jogja, dengan begitu banyak seniman sastra, melakukan perbaruan cara menyampaikan puisi,” tutur Dhenok.
Puisi “Apa Sumpahmu” merupakan salah satu karya Dhenok yang banyak bersinggungan dengan kisah Ramayana, Mahabharata, pengalaman personal, serta kebudayaan Bali. Karya-karya tersebut menjadi bagian dari perhatiannya terhadap pelestarian dan pengembangan budaya daerah.
Dalam festival itu, Putri Suastini Koster juga tampil membacakan puisi bersama empat penyair perempuan lainnya. Penampilan tersebut memperlihatkan bagaimana puisi dapat disampaikan secara lebih ekspresif dengan memasukkan unsur teatrikal.
Putri mengatakan, dirinya diundang setelah sebelumnya mengenal karya Dhenok Kristianti. Ia kemudian diminta membawakan puisi “Apa Sumpahmu”.
Menurut Putri, tradisi pembacaan puisi di Bali kerap bersentuhan dengan berbagai unsur seni, seperti tari, gamelan, dan pertunjukan tradisional. Pendekatan tersebut dinilai dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan seni sastra di Yogyakarta.
“Kami suka baca puisi. Kami sering baca sumpah. Kami ingin puisi dibaca enak ditonton dan pembaca ekspresif, unsur teatrikal masuk, menjiwai kalimat, dan akan jadi sebuah pertunjukan,” kata Putri.
Ia juga menilai keterlibatan perempuan dalam pertunjukan puisi menjadi kekuatan tersendiri. Putri berharap kegiatan semacam ini dapat mendorong generasi muda untuk lebih dekat dengan sastra dan berani mengembangkan bentuk penyajiannya.
“Harapan jadi inspirasi anak-anak lebih baik, lebih maju,” ujarnya.
Putri yang telah mengenal dunia seni sejak usia lima tahun menekankan pentingnya menanamkan perhatian terhadap seni sejak dini. Menurut dia, seni dapat membantu membentuk kepekaan, kreativitas, dan karakter generasi muda.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara seni tradisi dan seni modern. Di Bali, perkembangan seni modern antara lain mendapat ruang melalui Festival Seni Bali Jani.
“Jogja rumah kedua,” kata Putri, menggambarkan kedekatannya dengan Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan seni dan sastra.
Ketua panitia pelaksana Festival Pertunjukan Puisi Jateng dan DIY 2026, Ana Ratri Wahyuni dari Rumah Bintang Kreatif, mengatakan festival tersebut tidak semata-mata ditujukan sebagai ajang kompetisi. Kegiatan ini juga dirancang sebagai ruang pemberdayaan sekaligus pemuliaan budaya melalui pertemuan seni sastra dan pertunjukan.
“Festival diselenggarakan selain sebagai ajang perlombaan juga sebagai wadah pemuliaan budaya, khususnya memadukan seni sastra dan pertunjukan,” ujar Ana Ratri.
Menurut Ana Ratri, Yogyakarta memiliki ekosistem seni pertunjukan yang terus berkembang. Antusiasme peserta menunjukkan bahwa ruang kreatif yang mempertemukan sastra dan seni panggung masih dibutuhkan.
Panitia pun melakukan seleksi hingga menetapkan 10 finalis dari peserta yang mendaftar. Untuk penyelenggaraan berikutnya, jumlah peserta yang dapat ditampung direncanakan lebih banyak agar kesempatan berkarya semakin terbuka.
Pada akhir festival, Kurnia Setya Wulansari dari Teater Dengung ditetapkan sebagai pemenang Festival Pertunjukan Puisi Jateng dan DIY 2026.
Posisi juara kedua diraih Megafauna Art Collective, sedangkan juara ketiga diberikan kepada Monggang Film. Sementara itu, penghargaan peserta favorit penonton diraih Kiai Banteng.
Festival ini menunjukkan bahwa puisi dapat melampaui batas halaman buku. Melalui pengolahan suara, gerak, ekspresi, dan pemanggungan, puisi dihadirkan sebagai pengalaman artistik yang dapat dinikmati lebih luas oleh penonton.

