KILASJATENG– Limbah kayu jati yang selama ini kerap dianggap sebagai sisa produksi disulap menjadi karya seni bernilai tinggi dalam Joshibi International Visual Art and Design Exhibition di Tokyo, Jepang.
Pameran bertajuk Cultural Narrative: Bringing Personal & Collective Stories into the World of Visual Arts tersebut berlangsung pada 14-30 November 2022 lalu. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda internasional yang diselenggarakan Joshibi University of Art and Design, College of Art and Design.
Pameran tersebut mempertemukan seniman, dosen, dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi mitra. Selain Jepang sebagai tuan rumah, peserta berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan China.
Meski berlangsung di tengah situasi pandemi Covid-19, penyelenggara tetap berupaya menghadirkan pameran dengan kualitas terbaik. Ajang ini sekaligus menjadi ruang bagi para peserta untuk memperkenalkan gagasan dan karya seni dari latar budaya masing-masing.
Salah satu perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam pameran tersebut adalah Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melalui Fakultas Seni Rupa, khususnya Jurusan Kriya.
Kerja sama antara Jurusan Kriya ISI Yogyakarta dan Joshibi College of Art and Design telah berlangsung cukup lama. Hubungan sebagai *partner university* tersebut kembali diwujudkan melalui keikutsertaan dosen dan sejumlah mahasiswa dalam pameran internasional di Tokyo.

Salah satu dosen yang ambil bagian adalah Yulriawan Dafri. Ia menghadirkan karya seni berbentuk dekorasi dinding berupa kepala kuda yang dibuat dari limbah kayu jati.
Karya tersebut tidak lahir dari material baru. Yulriawan justru memanfaatkan potongan kayu yang sebelumnya tidak lagi digunakan, baik berupa bongkahan maupun sisa dari industri mebel.
Potongan-potongan kayu tersebut kemudian diolah dan disusun hingga membentuk figur kepala kuda. Dari material yang semula dianggap tidak bernilai, lahirlah karya dekoratif yang memiliki karakter visual sekaligus pesan tentang keberlanjutan lingkungan.
Pemanfaatan limbah kayu dalam karya Yulriawan sejalan dengan gagasan sustainability dan upcycle yang semakin mendapat perhatian dalam perkembangan seni rupa kontemporer.
Melalui pendekatan tersebut, material yang berpotensi menjadi limbah mendapatkan kehidupan baru sebagai karya seni. Konsep ini juga menjadi bagian dari upaya mengurangi pembuangan material sekaligus membangun kesadaran mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Karya Yulriawan berjudul The Trailblazer tidak hanya menawarkan bentuk kepala kuda sebagai elemen dekoratif. Figur kuda dipilih karena dikenal sebagai simbol kekuatan, ketangguhan, dan daya juang.
Simbol tersebut kemudian diterjemahkan melalui material kayu bekas dengan karakter alami yang kuat. Perpaduan antara bentuk, material, dan gagasan membuat karya tersebut memiliki cerita yang lebih luas daripada sekadar benda hias.
Kurator pameran, Naito Sachie, turut memberikan apresiasi terhadap karya Yulriawan. Menurut kurator, pengolahan material alam tersebut mampu menghadirkan karya yang memiliki kekuatan simbolik sekaligus nilai historis.
Karya The Trailblazer pada akhirnya memperlihatkan bagaimana material sederhana dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan tentang lingkungan, kekuatan, dan hubungan manusia dengan alam.
Bagi Joshibi College of Art and Design, pameran internasional tersebut tidak semata-mata menjadi ruang untuk memamerkan karya seni.
Kegiatan ini juga menjadi sarana mempertemukan para akademisi, seniman, dosen, dan mahasiswa dari berbagai negara. Pertemuan tersebut membuka ruang pertukaran gagasan serta memperkuat hubungan antarkampus yang selama ini telah terjalin.
Keikutsertaan ISI Yogyakarta menunjukkan bahwa karya seni akademisi Indonesia memiliki ruang untuk tampil dalam forum internasional. Di sisi lain, kolaborasi dengan perguruan tinggi mitra seperti Joshibi College of Art and Design menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring seni dan pendidikan lintas negara.
Melalui tema Cultural Narrative, pameran tersebut juga menegaskan bahwa karya seni dapat menjadi media untuk membawa cerita personal maupun kolektif ke ruang publik dunia.
Karya The Trailblazer menjadi salah satu contoh bagaimana cerita tentang material, lingkungan, budaya, dan simbol kekuatan dapat diterjemahkan menjadi karya visual yang mampu berbicara melampaui batas negara.


