Batik Kontemporer ISI Yogyakarta Tampilkan Sisi Mistis Bali di Pameran Seni Internasional Shanghai

oleh -5 Dilihat
Salah satu karya yang dipamerkan beberapa tahun lalu
Salah satu karya yang dipamerkan beberapa tahun lalu

KILASJATENG.ID – Karya seni batik Indonesia kembali mendapat ruang di panggung internasional. Kali ini, karya seniman akademis dari Fakultas Seni Rupa (FSR) ISI Yogyakarta tampil dalam The 11th International Exhibition of Traditional Fine Arts yang digelar di Shanghai Art Collection Museum (SACM), China, pada 10 Juni hingga 7 Juli 2021 lalu.

Pameran seni tersebut mempertemukan sekitar 150 peserta dari 24 negara. Indonesia menjadi salah satu negara yang turut ambil bagian dengan mengirimkan lima seniman akademis dari FSR ISI Yogyakarta.

Salah satu seniman yang berpartisipasi adalah Dr. Yulriawan Dafri, M.Hum, dosen dari Jurusan Kriya FSR ISI Yogyakarta. Dalam pameran internasional tersebut, Yulriawan membawa karya batik lukis kontemporer berjudul “The Mystical Side of Bali”.

Karya tersebut tidak sekadar mengangkat keindahan Pulau Bali. Yulriawan justru mencoba mengajak penikmat seni melihat Bali dari sisi yang lebih dalam, yakni kehidupan spiritual, kekuatan simbolik, serta dimensi mistis yang selama ini hidup berdampingan dengan masyarakat Bali.

Menggali Sisi Lain Pulau Bali

Selama ini, Bali lebih sering dikenal melalui panorama alam, seni, tradisi, dan keramahan budayanya. Namun, menurut Yulriawan, di balik daya tarik tersebut terdapat dunia spiritual yang kaya dan kompleks.

Pandangan itu kemudian menjadi titik berangkat penciptaan karya “The Mystical Side of Bali”.

Dalam karya tersebut, Yulriawan mengeksplorasi konsep Rwa Bhineda, sebuah filosofi yang menekankan keseimbangan antara dua unsur yang berlawanan. Konsep tersebut antara lain tercermin dalam pasangan gelap dan terang, baik dan buruk, serta sekala dan niskala.

Baca Juga  Kemensos Hadirkan LENSA SR untuk Pastikan Informasi Sekolah Rakyat Valid dan Terpadu

Sekala merujuk pada dunia yang dapat dilihat dan dirasakan secara nyata. Sementara itu, niskala berkaitan dengan dimensi yang tidak kasatmata.

Pertemuan kedua dunia tersebut menjadi sumber inspirasi bagi Yulriawan dalam mengolah gagasan ke dalam medium batik lukis.

Pendekatan yang digunakan bukan sekadar menghadirkan bentuk-bentuk tradisional, tetapi mengolahnya melalui bahasa visual abstrak-ekspresif.

Dengan pendekatan tersebut, batik tidak ditempatkan hanya sebagai produk budaya atau karya dekoratif. Batik menjadi medium untuk menyampaikan gagasan mengenai energi spiritual dan pengalaman manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang berada di luar dunia kasatmata.

Dr Yulriawan Dafri, M.Hum
Dr Yulriawan Dafri, M.Hum

Estetika Bali Tak Sekadar Keindahan

Melalui karya “The Mystical Side of Bali”, Yulriawan juga ingin memperluas cara pandang terhadap estetika Bali.

Keindahan Bali selama ini kerap dikaitkan dengan konsep satyam, sivam, sundaram, yang secara umum berkaitan dengan kebenaran, kebaikan atau kesucian, serta keindahan.

Namun, dalam karya ini, estetika tersebut diperluas dengan menghadirkan karakter energi spiritual yang kuat.

Energi tersebut dapat terasa intens, berwibawa, bahkan terkadang menghadirkan kesan mengerikan. Meski demikian, karakter tersebut tidak selalu dimaknai sebagai sesuatu yang negatif.

Sebaliknya, dalam konteks spiritual dan budaya Bali, kekuatan tersebut dapat memiliki nilai sakral sekaligus berfungsi sebagai simbol perlindungan.

Gagasan itulah yang kemudian diterjemahkan Yulriawan melalui bahasa batik kontemporer. Ia berusaha mempertemukan kekayaan tradisi dengan ekspresi artistik modern sehingga menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki lapisan makna.

Baca Juga  Green Impact Project 2026: Ketika Anak Muda Jawab Persoalan Lingkungan Lewat Aksi Nyata

ISI Yogyakarta Perkuat Jejaring Seni Internasional

Keikutsertaan lima seniman akademis FSR ISI Yogyakarta dalam pameran tersebut juga menjadi bagian penting dari hubungan kerja sama antara ISI Yogyakarta dan Shanghai Art Collection Museum.

Pihak SACM memberikan apresiasi terhadap keterlibatan seniman Indonesia, khususnya dari ISI Yogyakarta. Partisipasi tersebut menjadi salah satu bentuk implementasi dari hubungan kemitraan yang telah terjalin antara kedua institusi.

Kolaborasi semacam ini membuka kesempatan bagi seniman akademis Indonesia untuk memperkenalkan gagasan, teknik, dan kekayaan seni tradisi Nusantara kepada publik internasional.

Di sisi lain, kehadiran karya batik kontemporer di ruang pamer internasional menunjukkan bahwa batik memiliki ruang yang luas untuk terus berkembang. Batik tidak harus berhenti pada pola dan pakem tradisional, tetapi dapat menjadi medium eksplorasi gagasan baru tanpa kehilangan akar budayanya.

Melalui “The Mystical Side of Bali”, Yulriawan Dafri memperlihatkan bagaimana batik dapat menjadi jembatan antara tradisi dan ekspresi kontemporer.

Karya tersebut sekaligus membawa pesan bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak hanya terletak pada keindahan yang tampak di permukaan. Di baliknya terdapat filosofi, kepercayaan, simbol, dan pengalaman spiritual yang dapat terus digali melalui karya seni.

Pameran internasional di Shanghai itu pun menjadi salah satu ruang penting bagi seni rupa Indonesia untuk menunjukkan bahwa tradisi dan kreativitas kontemporer dapat berjalan beriringan di panggung global.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News