Anak Dipersulit Ikut Seleksi Popda Provinsi, Ortu Atlet Pelajar Wushu Kota Solo Pertanyakan Transparansi 

oleh -4 Dilihat
Sejumlah orang tua atlet pelajar wushu di Kota Solo, Jawa Tengah mengeluhkan tak adanya transparansi dalam proses seleksi Popda tingkat Provinsi yang diadakan Pengkot Wushu Kota Solo. (Foto: Putri Sejati)
Sejumlah orang tua atlet pelajar wushu di Kota Solo, Jawa Tengah mengeluhkan tak adanya transparansi dalam proses seleksi Popda tingkat Provinsi yang diadakan Pengkot Wushu Kota Solo. (Foto: Putri Sejati)

KILASJATENG.ID– Sejumlah orang tua atlet pelajar wushu di Kota Solo, Jawa Tengah mengeluhkan tak adanya transparansi dalam proses seleksi Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) tingkat Provinsi yang diadakan Pengurus Kota (Pengkot) Wushu Kota Solo.

Salah seorang orang tua atlet, Diah mengaku selama ini tidak pernah menerima informasi apapun terkait pelaksanaan seleksi atlet pelajar cabor wushu untuk mewakili Kota Solo di ajang Popda Provinsi Jateng. 

“Anak saya sudah berprestasi di cabor wushu sejak di SD sampai sekarang di SMP tapi belum pernah sekalipun ikut seleksi Popda Provinsi karena memang tidak ada informasi apapun yang kami terima baik dari Pengkot Wushu maupun dari dinas,” ujarnya kepada awak media, Senin 31 Agustus 2026. 

Karena itu, tahun ini ia pun mencoba mendaftarkan putranya secara mandiri ke Pengurus Kota (Pengkot) Wushu Kota Solo agar bisa mengikuti seleksi Popda tingkat Provinsi mewakili Kota Solo lantaran tahun ini di Popda Kota Solo anaknya berhasil jadi juara dan naik podium. 

“Dan ternyata bukan hanya anak saya yang mengajukan, banyak atlet pelajar wushu lainnya yang juga mendaftar karena menang di Popda tingkat kota. Kami mendaftar sejak Mei tapi tidak ada kejelasan apapun mengenai proses seleksi, hingga akhirnya tahu-tahu keluar list nama (atlet pelajar Wushu yang mewakili Kota Solo di Popda tingkat Provinsi),” paparnya.

Ia mengaku terkejut, apalagi dari 24 nama atlet pelajar Wushu yang mewakili Kota Solo tersebut tidak mengikuti Popda tingkat kota. Hal itu menurutnya janggal, karena seharusnya yang menang di tingkat kota yang berhak mewakili Kota Solo untuk maju ke jenjang berikutnya. 

Baca Juga  Green Impact Project 2026: Ketika Anak Muda Jawab Persoalan Lingkungan Lewat Aksi Nyata

“Kami dapat list nama itu dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Solo beberapa waktu lalu dan ternyata seleksinya sudah 19 Juli kemarin. Kan aneh kenapa kami yang jelas-jelas anaknya menang Popda Kota dan mendaftar tidak mendapat informasi mengenai seleksi ini sama sekali,” tandasnya.

Keluhan tersebut sudah sempat ia sampaikan ke Dispora yang kemudian memediasi antara orang tua atlet dengan Pengkot Wushu, namun lantaran seleksi sudah berakhir akhirnya anak-anak mereka yang punya prestasi tetap tidak bisa mewakili Kota Solo maju di Popda Provinsi Jateng. 

“Dari pihak Dispora bahkan di pertemuan terakhir mengatakan kalau Popda itu hak semua pelajar di Kota Surakarta, nggak urusan itu sasananya dimana asal dia pelajar di Surakarta itu berhak mendaftar seleksi. Tapi karena deadline sudah ditutup akhirnya 9 anak termasuk anak saya itu tidak bisa ikut Popda,” keluhnya.

Selain masalah seleksi atlet pelajar wushu yang tidak transparan, Diah juga menemukan adanya kejanggalan mengenai kelas yang dipertandingkan saat Popda Kota Solo tidak linier dengan yang dipertandingkan di Popda Provinsi Jateng. Sehingga hal tersebut seolah menjadi alasan Pengkot Wushu untuk tidak memilih para juara wushu di Popda Kota. 

“Popda tingkat kota sudah, ada yang mewakili ada yang nggak di tingkat Provinsi. Memang nomor pertandingan yang dipertandingkan di tingkat kota berbeda dengan di tingkat provinsi. Jadi otomatis memang atletnya berbeda yang main, tapi ada juga yang kemarin menang di Popda Kota diberangkatkan ada tapi sisanya yang 24 anak ini nggak terkait Poda Kota, memang penunjukkan,” kata dia.

Baca Juga  Kemensos Hadirkan LENSA SR untuk Pastikan Informasi Sekolah Rakyat Valid dan Terpadu

Karena itu, Diah pun menduga ada upaya seleksi internal yang digelar oleh pihak Pengkot Wushu Kota Solo tanpa ada pemberitahuan secara meluas seperti yang dialami oleh anaknya dan beberapa siswa lainnya.

“Jadi sebenarnya itu poin utamanya tidak ada transparansi dan komunikasi dua arah. Kami menduga karena anak-anak kami bukan binaan atlet dari sasana wushu di Kota Solo makanya tidak dipilih, padahal sebelumnya Dispora jelas mengatakan semua siswa sekolah di Solo memiliki peluang untuk ikut Popda Provinsi. Dan faktanya ada kok atlet renang tempat latihannya di Batang tapi dia pelajar Kota Solo. Dispora pun mengatakan semua siswa sekolah di Solo berhak,” duga Diah.

Hal serupa dikeluhkan oleh Jefri, putranya yang berprestasi di cabor Wushu pun tidak bisa mengecap seleksi untuk mewakili Kota Solo di Popda tingkat Provinsi.

“Persoalan ini sebenarnya sudah berjalan tiga tahun ini. Dalam tanda kutip dipersulit. Padahal di Popda tingkat Kota kemarin anak-anak kita bisa ikut dan beberapa naik podium, tetapi proses untuk mengikuti Popda itu kami harus bolak-balik ke Dispora karena Pengkot tidak bisa diajak berkomunikasi,” pungkasnya. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News