KILASJATENG.ID– Perjalanan hidup konten kreator dan influencer Fanny Kondoh yang penuh liku akhirnya diangkat ke layar lebar berjudul Baby Udon yang akan mulai diputar di bioskop-bioskop di Tanah Air mulai 3 September 2026 mendatang.
Film Baby Udon sendiri berfokus pada kisah pertemuan Fanny Kondoh dengan suaminya, Hajime Kondoh, seorang General Manager di restoran udon asal Jepang serta lika-liku kehidupan keduanya sebagai pasangan suami istri.
Selain menampilkan banyak kisah manis dan romantis, film yang diproduksi Sumargo Films dan LYTO Pictures tersebut juga menceritakan bagaimana kegigihan dan keteguhan Fanny Kondoh saat berusaha mewujudkan mimpinya memiliki anak bersama suami. Serta ketabahan dan kuatnya ia saat harus mendampingi suami yang divonis menderita penyakit kanker stadium akhir sampai tutup mata.
Film ini juga menunjukkan keajaiban dan harapan serta usaha yang terbayar saat Fanny Kondoh akhirnya berhasil memiliki bayi yang ia dan suaminya inginkan sesaat ia kehilangan suaminya.
Kisah yang dirangkum apik inipun tak pelak sukses membuat penontonnya banjir air mata usai menyaksikannya. Seperti mayoritas penonton yang menyaksikan screening film “Baby Udon” di XXI Solo Paragon Mall, Kota Solo, Jawa Tengah, Senin 17 Agustus 2026.
Produser sekaligus pemeran Hajime, Denny Sumargo mengungkapkan, ia mengangkat kisah hidup Fanny Kondoh karena menurutnya kisah ini memiliki banyak pelajaran hidup yang sayang jika tidak diangkat ke layar lebar.
“Alasan membuat film ini, kalau aku bilang, ini satu cerita yang kalau nggak difilmkan kayaknya kita semua akan menyesali. Bahwa ada satu cerita sebagus ini yang tidak menjadi sebuah dokumentasi cerita film. Ceritanya, dengan alurnya yang sangat relate dengan kehidupan kita, yang nggak terlalu jauh, yang nggak terlalu berlebihan, tapi dikemas dengan tulisan Tuhan yang luar biasa,” ucapnya usai screening film Baby Udon.
“Seorang wanita, dengan mimpi Cinderella-nya, ingin menikah dengan orang kaya terwujud, menikah dengan seorang pria berkebangsaan Jepang yang terkendala dari agama tapi mereka disatukan, karena si pria akhirnya memilih untuk mualaf. Cinta mereka diuji kemudian setelah menikah sulitnya mereka untuk punya anak, dan sekarang ini banyak sekali orang-orang yang mengalami kondisi seperti itu, tapi mereka terus bertahan, akhirnya dapet anak tapi akhirnya keguguran. Dan di tengah mereka ingin berusaha lagi, ternyata Allah berkehendak lain, suaminya harus menderita sakit kanker yang sangat ganas. Itu pun, mereka saling menguatkan, sang istri terus bermuhasabah diri. Banyak berbagi, sampai dia berhijab, demi untuk merayu Allah supaya memberikan kesembuhan buat suaminya. Tapi cerita itu harus berakhir dengan suaminya harus pergi. Tapi walaupun begitu dia diberikan anak yang akhirnya jadi harapan dan titipan dari suaminya dan Allah buat melengkapi perjalanan dia berikutnya,” papar Densu, sapaan akrabnya.

Sementara itu, Fanny Kondoh selaku pemilik asli kisah Baby Udon berharap penonton bisa menikmati film yang menceritakan mengenai perjalanan hidupnya tersebut. Khususnya mereka yang pernah menjalani jalan cerita seperti dirinya.
“Sebenarnya film ini itu relate ke banyak benang ya. Dari yang pejuang kanker, pejuang garis dua, pejuang kehidupan, trust issue sama pasangan. Harapannya saat menyaksikan film Baby Udon ini penonton akan membawa sesuatu saat pulang, entah itu jawaban atau harapan,” ujarnya.
Fanny Kondoh menambahkan, alasan ia memilih PH milik Densu untuk memproduksi film Baby Kondoh lantaran sosok mantan pebasket nasional itulah yang menjadi jawaban dari doanya.
“Karena aku merasa dari semua PH yang besar-besar, luar biasa, bagus-bagus hanya Ko Densu tuh jawaban dari doa aku. Aku tuh selalu kalau diposisikan harus memilih, aku tuh selalu sholat dan doakan ‘Ya Allah, aku harus pilih yang mana?’ dan semua jalannya tuh diarahkan ke Ko Densu dan aku merasa cuma Ko Densu dan Ci Olive aja dan LYTO, dan semua cast, yang bisa membuat cerita ini tuh bukan cerita sekedar viral gitu loh, tapi sebuah karya yang dari hati, karena ini lebih dari sekedar film, tapi legacy buat anakku, Kaskas gitu,” ungkapnya.
Sedangkan Caitlin Halderman selaku pemeran Fanny Kondoh mengaku film Baby Kondoh menjadi film terberatnya karena tidak hanya berisi kisah cinta dan adegan nangis, tapi merupakan kisah nyata perjalanan hidup seorang perempuan tangguh.
“Ini film terberat aku ya, karena aku biasa main film-film pop, film-film remaja yang sekedar kaya cinta-cintaan, nangis, selesai gitu. Cuman ini layernya sangat banyak, mengetahui kisah hidup Kak Fanny yang sangat amat berat dan aku harus sampaikan, semua rasa yang Kak Fanny rasakan selama sembilan tahun ini, aku jadikan satu di film ini gitu. Jadi layernya super duper banyak dan itu bukan satu hal yang gampang,” tuturnya.*


