KILASJATENG.ID– Didasari ikhtiar untuk menghadirkan kembali kekayaan falsafah Jawa agar bisa dipahami kembali dan diterima masyarakat saat ini, seniman sekaligus komposer ternama Dwi Priyo Sumarto menghadirkan pertunjukan musik “Sedulur Papat Limo Pancer” akan digelar di Taman Gombang Syahdu (TGS), Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu 25 April 2026.
Panitia Penyelenggara, Mukhlis Anton N mengatakan, pertunjukan yang akan dimulai pukul 19.30 WIB tersebut merupakan karya yang digagas oleh Dwi Priyo Sumarto bersama kelompok musik Kemlaka dan Gong Sotra.
“Digagas sebagai sebuah ikhtiar artistik untuk menghadirkan kembali kekayaan falsafah Jawa ke dalam bahasa pertunjukan musik yang relevan dengan publik hari ini,” ujarnya dalam pres rilis yang diterima Kilasjateng.id.
Ia memaparkan, karya “Sedulur Papat Limo Pancer” berangkat dari salah satu konsep penting dalam khazanah pemikiran Jawa, yakni pemahaman tentang manusia sebagai pusat kehidupan yang senantiasa berkaitan dengan empat unsur pendamping.
Konsep ini tidak hanya dipahami sebagai bagian dari falsafah Jawa kuno, tetapi juga ditafsirkan sebagai penggambaran sifat-sifat dasar manusia yang hidup dalam diri setiap individu.
Dari landasan itulah pertunjukan ini disusun, sehingga musik tidak hanya tampil sebagai hiburan, melainkan juga sebagai medium refleksi, perenungan, dan penyampaian nilai-nilai budaya.
“Melalui pertunjukan ini, penyelenggara berupaya membangun jembatan antara tradisi dan kreativitas kontemporer. Makna sedulur papat limo pancer dijadikan pijakan dalam penciptaan musik yang berakar pada kearifan lokal, sekaligus dikembangkan melalui semangat inovasi artistik,” paparnya.
Sehingga, lanjut Mukhlis, karya ini menempatkan falsafah Jawa bukan sebagai warisan yang diam, tetapi sebagai sumber inspirasi yang hidup, dapat ditafsirkan ulang, dan dapat dihadirkan kembali kepada masyarakat melalui pengalaman estetik yang kuat.
“Tema yang diusung dalam pertunjukan ini adalah Refleksi filsafat Jawa melalui gamelan kontemporer, yang menunjukkan arah penciptaan karya yang menekankan keterhubungan antara warisan pengetahuan tradisional dengan kemungkinan-kemungkinan baru dalam seni pertunjukan,” jelasnya.
“Gamelan, dalam konteks ini, tidak semata ditempatkan sebagai instrumen tradisi, tetapi juga sebagai medium ekspresi kreatif yang mampu menyampaikan gagasan filosofis, pengalaman batin, dan pesan kebudayaan kepada penonton lintas generasi,” imbuh Mukhlis.
Dan sesuai tujuan awal untuk mengenalkan kembali Falsafah Jawa, maka penyelenggara juga menaruh perhatian besar pada keterlibatan generasi muda. Salah satu tujuan utama kegiatan ini adalah mengajak seniman muda untuk memaknai filsafat Jawa sebagai bekal kehidupan di masa mendatang, sekaligus meningkatkan kreativitas dan kerja sama di antara para pelaku seni.
“Pertunjukan ini diharapkan dapat menjadi ruang tumbuh bagi regenerasi komposer dan seniman muda, serta memberi pengalaman artistik yang bermakna bagi penikmat musik. Dengan dasar itulah Sedulur Papat Limo Pancer diposisikan bukan hanya sebagai peristiwa seni, tetapi juga sebagai proses pendidikan budaya melalui medium pertunjukan,” kata dia.
Dari sisi pemajuan kebudayaan, karya ini menegaskan komitmen untuk memanfaatkan unsur seni dan pengetahuan tradisional, khususnya gamelan sebagai warisan budaya tak benda, dalam penciptaan karya kreatif dan inovatif.
Kehadiran Sedulur Papat Limo Pancer juga menjadi penanda penting bahwa seni pertunjukan dapat berfungsi sebagai wahana alih-tular pengetahuan budaya. Nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat tidak hanya disampaikan melalui ceramah atau teks, tetapi juga dapat diresapi melalui pengalaman menonton, mendengar, dan merasakan. Pertunjukan semacam ini membuka kemungkinan agar publik, terutama generasi muda, kembali dekat dengan filsafat Jawa melalui bentuk penyajian yang lebih akrab, komunikatif, dan estetik.
“Harapannya, agar kegiatan ini dapat memperluas pengetahuan masyarakat tentang makna falsafah Jawa, menjaga kerja sama antarseniman, serta melibatkan pemangku kebudayaan, pengrawit, budayawan, dan komunitas seni dalam ekosistem apresiasi yang lebih luas. Dengan demikian, pertunjukan ini memuat dimensi artistik, edukatif, sosial, dan kultural secara bersamaan,” pungkas Muchlis. *


