Bocah SD Asal Boyolali Raih Penghargaan dari NASA, Berhasil Temukan Celah Keamanan Sistem Publik

oleh -1 Dilihat
Siswa kelas 6 SD Negeri 3 Genengsari, Ibrahim Al Abrar menunjukkan surat tanda penghargaan yang diberikan oleh Nasa atas keberhasilannya melaporkan celah keamanan domain publik milik Nasa di rumahnya di Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu, 18 Juli 2026. (Foto: Agatha Janendra) 18/07/2026.
Siswa kelas 6 SD Negeri 3 Genengsari, Ibrahim Al Abrar menunjukkan surat tanda penghargaan yang diberikan oleh Nasa atas keberhasilannya melaporkan celah keamanan domain publik milik Nasa di rumahnya di Desa Genengsari, Kecamatan Kemusu, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu, 18 Juli 2026. (Foto: Agatha Janendra)

KILASJATENG.ID- Prestasi membanggakan datang dari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Seorang siswa kelas VI SD Negeri 3 Genengsari, Kecamatan Kemusu, Ibrahim Al Abrar (12), menerima surat penghargaan (Letter of Appreciation) dari NASA setelah berhasil menemukan dan melaporkan kerentanan keamanan (security vulnerability) pada salah satu sistem atau domain publik milik lembaga antariksa Amerika Serikat tersebut.

Penghargaan itu diterima Ibrahim melalui surat elektronik (email) yang dikirim NASA ke rumahnya di Desa Genengsari. Apresiasi diberikan setelah laporan yang dikirimnya dinilai membantu meningkatkan keamanan sistem milik NASA melalui mekanisme responsible vulnerability disclosure.

Saat ditemui di kediamannya, Ibrahim mengaku tidak menyangka laporannya mendapat respons langsung dari NASA.

“Saya sangat senang bisa mendapat surat penghargaan dari NASA. Awalnya saya hanya ingin belajar dan membantu melaporkan celah keamanan agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujar Ibrahim.

Ibrahim mengaku baru mulai mempelajari cyber security pada awal 2026 setelah mendapat rekomendasi dari teman yang dikenalnya secara daring. Ia belajar secara otodidak melalui artikel di internet, memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), serta berbagai sumber pembelajaran lainnya.

Baca Juga  Gempa M 2,9 Goyang Pacitan Jawa Timur, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

Ia juga terinspirasi oleh kisah seorang pelajar Indonesia yang sebelumnya berhasil memperoleh apresiasi serupa dari NASA.

Menurut Ibrahim, sebelum memperoleh penghargaan tersebut ia telah beberapa kali mengirim laporan kerentanan keamanan ke NASA. Laporan keempat akhirnya mendapat tanggapan dan apresiasi resmi.

Minat Ibrahim di bidang keamanan siber bermula dari kegemarannya bermain gim. Sang ayah kemudian mengarahkannya belajar coding dan membuat gim sejak duduk di kelas IV SD. Dari situlah ia mulai tertarik mendalami dunia keamanan siber yang menurutnya lebih menantang.

“Awalnya belajar coding untuk membuat game. Setelah mengenal cyber security, saya merasa bidang ini lebih menantang. Cita-cita saya ingin menjadi profesional di bidang cyber security,” katanya.

Sementara itu, ayah Ibrahim, Aminuddin Salas, mengatakan ketertarikan putranya berawal dari upaya mengurangi kebiasaan bermain gim dengan mengalihkannya ke kegiatan yang lebih produktif, yakni belajar pemrograman.

“Awalnya saya arahkan supaya tidak hanya bermain game, tetapi belajar membuat game lewat coding. Perjalanannya kami dokumentasikan di media sosial, lalu banyak yang menyarankan Ibrahim mencoba belajar cyber security. Akhirnya dia belajar secara otodidak hingga mampu menemukan celah keamanan pada beberapa sistem, termasuk milik NASA,” ujar Aminuddin.

Baca Juga  Dongkrak Efisiensi Logistik Jatim, Terminal Teluk Lamong Terapkan Sistem 'Berthing Window' di TPK Berlian

Aminuddin yang juga merupakan guru Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) di SMK Negeri 1 Kemusu mengaku hanya membekali putranya dengan dasar-dasar komputer. Selebihnya, Ibrahim mengembangkan kemampuannya secara mandiri.

Selain menerima penghargaan dari NASA, Ibrahim sebelumnya juga memperoleh sertifikat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Lampung setelah melaporkan kerentanan pada salah satu sistem elektronik milik pemerintah daerah tersebut.

Prestasi Ibrahim menjadi bukti bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk berprestasi di tingkat internasional. Dari sebuah desa di Boyolali, bocah berusia 12 tahun itu berhasil menunjukkan bahwa ketekunan, rasa ingin tahu, dan semangat belajar dapat mengantarkan anak Indonesia bersaing di bidang teknologi dan keamanan siber dunia.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News