Tradisi Unik Warga Lereng Merapi Boyolali, Sapi Kurban Dimandikan Air Bunga Tujuh Rupa Sebelum Disembelih

oleh -7 Dilihat
Pembina Masjid Shiratalmustaqim, Setiyono (dua dari kanan), memandikan sapi pada tradisi memandikan hewan kurban sebelum disembelih dalam perayaan Hari Raya Idul Adha di halaman Masjid Shiratalmustaqim, dukuh Manggung, Desa Pagerjurang, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu, 27 Mei 2026. (Foto: Agatha Janendra)
Pembina Masjid Shiratalmustaqim, Setiyono (dua dari kanan), memandikan sapi pada tradisi memandikan hewan kurban sebelum disembelih dalam perayaan Hari Raya Idul Adha di halaman Masjid Shiratalmustaqim, dukuh Manggung, Desa Pagerjurang, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu, 27 Mei 2026. (Foto: Agatha Janendra)

KILASJATENG.ID— Menjelang Hari Raya Idul Adha 2026, warga lereng Gunung Merapi di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menggelar tradisi unik yang sudah dilakukan secara turun-temurun, yakni memandikan sapi kurban menggunakan air bunga tujuh rupa.

Tradisi tersebut digelar di halaman Masjid Shiratalmustaqim, Dukuh Manggung, Desa Pagerjurang, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, Selasa sore. Selain prosesi memandikan sapi, warga juga menggelar doa bersama dan kenduri adat dengan menghadirkan tiga tumpeng.

Prosesi diawali dengan mengeluarkan sapi kurban dari kandang. Hewan kurban kemudian dikalungi untaian bunga sebelum dimandikan menggunakan air campuran bunga tujuh rupa secara bergantian oleh warga setempat.

Pembina Masjid Shiratalmustaqim, Setiyono, mengatakan tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang terus dijaga masyarakat hingga sekarang.

“Tradisi ini sudah dilakukan secara turun-temurun sebagai bentuk pembersihan hewan kurban sebelum disembelih saat Idul Adha. Bunga tujuh rupa digunakan untuk menyucikan hewan kurban sekaligus melestarikan budaya masyarakat setempat,” ujar Setiyono.

Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan warga melalui doa dan makan bersama.

Selain prosesi memandikan sapi, warga juga menggelar kenduri adat dengan doa bersama yang dihadiri masyarakat sekitar. Tiga tumpeng disiapkan sebagai simbol rasa syukur dan harapan akan keberkahan.

Setiyono menambahkan, sapi kurban tahun ini dibeli dari peternak lokal di Desa Pagerjurang. Langkah tersebut dilakukan untuk membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

“Hewan kurban tahun ini kami beli dari peternak desa setempat agar bisa membantu ekonomi warga sekitar,” tambahnya.

Baca Juga  OJK Pastikan Likuiditas Perbankan Nasional Tetap Kuat di Tengah Tekanan Global

Sementara itu, Ketua RT 05 Dukuh Manggung, Biyanto, membenarkan bahwa tradisi tersebut selalu dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat.

“Tradisi ini sudah ada sejak zaman leluhur dan sampai sekarang masih terus dilaksanakan setiap Idul Adha,” kata Biyanto.

Ia menjelaskan, nantinya daging sapi kurban akan dibagikan kepada seluruh warga sebagai bentuk kebersamaan dan harapan memperoleh keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Melalui tradisi unik tersebut, masyarakat berharap hewan kurban yang akan disembelih berada dalam kondisi suci dan bersih, sekaligus menjadi upaya melestarikan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat lereng Merapi.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News