KILASJATENG.ID – Langkah Indonesia dalam mempercepat transisi energi berkelanjutan semakin nyata. Melalui kolaborasi strategis antara PT Pertamina (Persero) dan raksasa otomotif Toyota, pengembangan teknologi Bioetanol Generasi Kedua (2G) dengan pendekatan multi-feedstock kini memasuki babak baru yang lebih konkret.
Proyek ambisius ini difokuskan pada pengolahan sumber daya domestik non-pangan untuk dikonversi menjadi energi bersih guna menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Pemanfaatan Limbah dan Ketahanan Pangan
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Todotua Pasaribu, menjelaskan bahwa proyek ini mengedepankan optimalisasi limbah biomassa di dalam negeri. Bahan baku yang digunakan mencakup:
1. Biomassa Kelapa Sawit
2. Jagung
3. Sorgum
Pemanfaatan sorgum secara khusus dinilai strategis karena tidak hanya mendukung kedaulatan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah pada sektor ketahanan pangan nasional.
“Kami melihat kolaborasi Pertamina dan Toyota menjadi contoh sinergi yang nyata antara BUMN dan investor global dalam membangun ekosistem energi masa depan,” ujar Todotua di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Target Konstruksi dan Operasional 2028
Pemerintah mendorong agar kerja sama ini segera beralih dari meja perundingan ke tahap fisik. Realisasi tahap konstruksi diharapkan mulai berjalan dalam waktu dekat agar target implementasi penuh pada tahun 2028 dapat tercapai.
CEO Toyota Motor Asia, Masahiko Maeda, mengonfirmasi bahwa pertemuan dengan pemerintah Indonesia telah menghasilkan kemajuan signifikan menuju kesepakatan final.
“Proses kerja sama kini semakin mengarah pada kesepakatan konkret. Ini mencakup kajian kelayakan ekonomi, penyusunan struktur proyek, hingga penetapan timeline implementasi yang terukur,” jelas Maeda.
Baca juga: [Kerja Sama RI Menguat, Investasi Jepang Tumbuh Signifikan]
Roadmap Mandatori Biofuel (E5 hingga E20)
Pengembangan teknologi 2G ini menjadi tulang punggung bagi peta jalan (roadmap) biofuel yang telah disiapkan pemerintah. Kebijakan mandatori tersebut direncanakan sebagai berikut:
1. E5 (2026–2027): Tahap awal pencampuran bioetanol 5%.
2. E10 (2028–2030): Peningkatan kadar bioetanol menjadi 10%.
3. Jangka Panjang: Menuju target implementasi E20.
Hilirisasi Energi Masa Depan
Teknologi Bioetanol 2G dianggap sebagai solusi inovatif karena mampu mengolah bahan non-pangan dan limbah biomassa. Dengan teknologi yang lebih maju, Indonesia tidak hanya sekadar mengekspor bahan mentah, tetapi berhasil melakukan hilirisasi energi yang memberikan nilai ekonomi tinggi bagi negara.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi pionir bagi proyek-proyek energi baru terbarukan (EBT) lainnya di tanah air, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok energi hijau global. (DCZ)


