Perbedaan Malam 1 Suro dan 1 Muharram, Mulai dari Tradisi hingga Amalannya

oleh -542 Dilihat
lustrasi satu Suro dan satu Muharram. Dari freepik
lustrasi satu Suro dan satu Muharram. Dari freepik

Kilasjateng.id-Malam satu suro selalu menjadi hari yang diperingati oleh masyarakat suku Jawa. Pada tahun ini, malam satu suro jatuh pada hari Rabu, 19 Juli 2023, menurut kalender Jawa. Namun, banyak yang mengira bahwa satu suro dan satu Muharram adalah hari yang sama. Tanpa disadari, ternyata kedua hari tersebut memiliki perbedaan. Apa saja?

Satu suro ditetapkan menurut kalender Jawa yang diawali dengan Rabu Wage atau Aboge. Kata Suro diambil dari Tahun Saka yang ada di kalender Jawa. Sementara itu, satu Muharram adalah hari tahun baru Islam yang ditetapkan setelah matahari di hari terakhir bulan Dzulhijjah tenggelam. Jika matahari tenggelam penuh, malam tersebut dapat disebut sebagai tahun baru Islam. Menurut kalender Islam atau hijriah, satu Muharram jatuh di hari yang sama dengan satu suro, yaitu 19 Juli 2023.

Selain berbeda dari penetapan jatuh tanggalnya, satu suro dan satu Muharram memiliki perbedaan lainnya. Perbedaan tersebut terletak pada tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Jawa.

Pada satu suro, masyarakat menganggap bahwa hari ini adalah sakral dan akan diisi dengan berbagai kegiatan. Masyarakat akan saling mengirimkan makanan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan terjadi selama satu bulan tersebut.

Bagi masyarakat agama Buddha, pada satu suro akan melakukan tradisi punggahan ketika bulan purnama. Tradisi ini sering dilakukan oleh masyarakat suku Jawa yang beragama Buddha yang ada di Desa Prigi, Demak, Jawa Tengah. Selain itu, mereka juga akan bersembahyang di Vihara sembari membawa ketan, pasung, apem, pisang, tumpeng, dan lainnya.

Baca Juga  Road to LFA dan APA 2025, Astra Gelar Workshop Fotografi dan Bincang Inspiratif di Kota Solo

Selain menjalankan kegiatan tradisi, mereka juga akan berpuasa hingga malam pangkareman, yaitu hari tenggang sebelum memasuki satu suro. Ketika masa pangkareman, umat Buddha tidak melakukan berbagai aktivitas rutin dan akan menggantinya dengan pengendalian diri dan beribadah.

Sementara itu, pada peringatan satu Muharram atau tahun baru Islam, umat Islam akan merayakannya dengan membaca Al-Quran, salawat, salat, dan berdoa. Doa yang dilantunkan adalah doa awal dan akhir tahun yang dilakukan setelah salat magrib atau isya. Namun, dianjurkan untuk memanjatkan doa sebelum magrib pada akhir tahun baru Islam antara 29 atau 30 Dzulhijjah.

Berikut adalah doa akhir tahun baru Islam yang dianjurkan untuk dibaca pada 29 atau 30 Dzulhijjah.

“Allahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwal. Wa ‘alaa fadhlikal-‘azhimi wujuudikal-mu’awwal. Wa haadzaa ‘aamun jadiidun qad aqbal. Nas’alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa-ihii wa junuudihii. Wal’auna ‘alaa haadzhihin-nafsil-ammarati bis-suu-i. Wal-isytighaala bimaa yuqarribunii ilaika zulfa. Yaa dzal-jalaali wal-ikraam. Wa sallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam.”

Artinya: “Ya Allah Engkaulah yang abadi, dahulu, lagi awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu yang Agung dan Kedermawanan-Mu perlindungan dalam tahun ini dari godaan setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya. dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak pada kejahatan, agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan kemuliaan. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, dan ke atas para keluarga dan sahabatnya.” (Azhar/ Nashih)

Baca Juga  GEMFest Diharapkan Jadi Pioner Pengembangan dan Pemanfaatan Budaya Gamelan

Sementara itu, berikut adalah doa awal tahun baru Islam yang dianjurkan untuk dibaca sebanyak tiga kali setelah magrib pada 1 Muharram untuk menyambut tahun baru. Dengan doa berikut, pembaca mengharapkan agar mendapatkan anugerah dan kemurahan Allah Swt.

“Allahumma maa ‘amiltu fi haadzhis-sanati mimmaa nahaitanii ‘anhu falam atub minhu wa lam tardhahu wa lam tansahu wa halamta ‘alayya ba’da qudratika ‘alaa uquubatii wa da’autanii ilat taubati ba’da jur-atii alaa ma’syiyatika, Allahumma fa inni astagfiruka fagfirlii wa maa ‘amiltu fiihaa mimma tardhaahu wa wa’adtanitsawaaba fas’alukallahumma yaa kariimu yaa dzal judi wal karami an tataqabbalahuu minnii wa laa taqtha’ rajaaii minka yaa kariim. wa shallalahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihii wa sahbihii wa sallam.”

Artinya: “Ya Allah, segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-mu, sedang kami belum bertaubat, padahal engkau tidak melupakannya dan engkau bersabar, yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau sudah mengajak saya untuk bertaubat sesudah saya maksiat. Karena itu ya Allah saya mohon ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu. Segala yang telah saya kerjakan selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat yang maha pemurah. Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas pendahulu kami Muhammad, Nabi yang Ummi dan ke atas keluarga dan sahabatnya.”

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News