KILASJATENG.ID– Upaya menjaga kelestarian batik sekaligus meningkatkan daya saing industri kreatif terus dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dinas Pariwisata (Dispar) DIY bersama Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian menggelar pelatihan dan sertifikasi profesi bagi pelaku industri batik di wilayah DIY.
Program yang berlangsung pada 18–22 Mei 2026 tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor batik, sekaligus memastikan warisan budaya Indonesia tetap relevan di tengah perkembangan industri kreatif modern.
Kepala BBSPJIKB Kementerian Perindustrian, Zya Labiba, menegaskan bahwa pelatihan dan sertifikasi profesi merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga keberlanjutan industri batik nasional.
Menurutnya, peningkatan kompetensi pelaku usaha menjadi faktor penting agar industri batik mampu bersaing di pasar yang semakin dinamis.
“Pelatihan berbasis kebutuhan industri dan sertifikasi profesi yang terstandar menjadi salah satu cara untuk memperkuat kualitas pelaku industri batik sekaligus meningkatkan daya saingnya,” ujarnya saat membuka kegiatan di Yogyakarta.
Zya menambahkan, kolaborasi antara BBSPJIKB dan Dispar DIY diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pelaku kreatif muda yang tidak hanya terampil membatik, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi baru.
Ia berharap generasi muda semakin tertarik menekuni dunia batik, baik sebagai pelaku industri kreatif maupun sebagai inovator yang mampu membawa batik tetap eksis dan diminati di era modern.
[irp posts=”11462″ ]
Batik Jadi Wajah Pariwisata Yogyakarta
Sementara itu, Kepala Dispar DIY Imam Pratanadi menegaskan bahwa batik memiliki posisi strategis bagi Yogyakarta. Selain sebagai warisan budaya, batik juga menjadi identitas daerah yang mendukung perkembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Menurutnya, kualitas SDM menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri batik di masa depan.
“Batik bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga menjadi wajah pariwisata Yogyakarta. Karena itu, diperlukan pelaku industri yang kompeten, kreatif, dan mampu menghasilkan inovasi tanpa meninggalkan akar budaya lokal,” katanya.
Dalam pelatihan kali ini, peserta mendapatkan pembekalan melalui dua skema kompetensi utama, yakni perancangan motif batik dan pewarnaan alam. Masing-masing program diikuti oleh 20 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang pelaku industri batik di DIY.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif daerah melalui peningkatan kualitas tenaga kerja yang profesional dan tersertifikasi.
Gen Z Didorong Jadi Regenerasi Industri Batik
Menariknya, program ini tidak hanya menyasar pelaku usaha dan pengrajin batik. Sejumlah pelajar dari berbagai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di DIY juga dilibatkan dalam pelatihan tersebut.
Kehadiran generasi Z dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan industri batik di masa mendatang. Para pelajar tidak hanya mempelajari teknik membatik, tetapi juga dikenalkan pada nilai budaya, kreativitas, hingga peluang pengembangan bisnis berbasis batik.
Partisipasi generasi muda ini menjadi sinyal positif bahwa regenerasi pelaku industri batik mulai terbentuk. Dengan sentuhan inovasi dan pemanfaatan teknologi, batik diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas tanpa kehilangan identitas budayanya.
Komitmen Berkelanjutan untuk Industri Batik Nasional
Sebelumnya, BBSPJIKB Kementerian Perindustrian dan Dispar DIY juga telah menyelenggarakan pelatihan serta sertifikasi profesi dengan skema pembuatan malam batik pada April 2026.
Rangkaian program tersebut menunjukkan komitmen berkelanjutan pemerintah dalam mendukung pelestarian sekaligus pengembangan industri batik nasional. Melalui peningkatan kompetensi, sertifikasi profesi, dan keterlibatan generasi muda, industri batik diharapkan mampu terus tumbuh, beradaptasi dengan perkembangan zaman, serta menjadi salah satu pilar penting ekonomi kreatif Indonesia.
Bagi Yogyakarta, langkah ini tidak hanya menjaga warisan budaya tetap hidup, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat batik dan destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia.


