KILASJATENG.ID – Pemerintah Kota Yogyakarta dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berkomitmen untuk saling bertukar pengalaman dalam mengembangkan sektor pariwisata, ekonomi kreatif (ekraf), serta penataan perkotaan. Sinergi strategis ini akan berfokus pada penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pelestarian budaya, hingga pemberdayaan masyarakat lokal.
Komitmen tersebut mengemuka dalam acara Studi Pengembangan Wisata, Desa Wisata, Penataan Perkotaan, dan Ekonomi Kreatif Pemerintah Kabupaten Banyuwangi ke Pemerintah Kota Yogyakarta yang digelar di Hotel De Djokja, Sabtu (30/5/2026).
Pemkot Yogyakarta: Pariwisata Maju Diawali dari SDM Unggul
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif tidak dapat dipisahkan dari kualitas manusianya. Menurutnya, kemajuan sektor ini harus diawali dengan merekonstruksi kualitas SDM agar mampu menjadi pelaku pembangunan yang produktif dan berdaya saing.
“Kalau ingin pariwisata dan ekonomi kreatif maju, maka SDM-nya harus dibangun. Stunting harus dituntaskan, perempuan harus berdaya, dan anak muda harus mampu bekerja sekaligus menciptakan lapangan kerja,” tegas Hasto saat menjadi narasumber acara tersebut.
Untuk mendukung hal itu, Pemkot Yogyakarta terus mendorong pembangunan berbasis kolaborasi lewat program inovatif, seperti One Village One Sister University dan One Village One Sister Company. Program ini menjadi wadah sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.
Beberapa fokus kolaborasi nyata yang sedang berjalan antara lain:
1. Penanganan sampah terintegrasi dari sumbernya.
2. Pengembangan kampung tematik untuk menggerakkan roda ekonomi lokal.
3. Penguatan sektor ekraf dan pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism).
Program ‘MAS JOS’ dan Potensi Wisata Arung Jeram Sungai Code
Hasto juga memaparkan program MAS JOS sebagai bagian dari rekonstruksi sosial yang sedang dijalankan di Kota Gudeg. Program ini mencakup pengelolaan sampah mandiri, normalisasi sungai, hingga menyulap kawasan bantaran sungai menjadi ruang publik sekaligus destinasi wisata.
Salah satu ikon yang kini tengah digarap serius adalah Sungai Code. Setelah melakukan kegiatan susur sungai beberapa waktu lalu, Pemkot Yogyakarta membidik peluang besar untuk menyulap kawasan ini menjadi destinasi wisata minat khusus.
“Kami ke depan ingin mengembangkan potensi Sungai Code menjadi wisata arung jeram. Setelah kami susur sungai, ternyata ada potensi yang sangat menarik untuk dikembangkan,” ungkap Hasto.
Meski memiliki segudang inovasi, Hasto secara terbuka menyatakan bahwa Kota Yogyakarta juga perlu belajar dari Banyuwangi yang dinilai sukses mempertahankan konsistensi festival tahunan dan pengelolaan desa wisatanya.
Banyuwangi Bidik Rahasia Kekuatan Budaya dan Local Wisdom Yogyakarta
Pada kesempatan yang sama, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan bahwa kunjungan kerja ini bertujuan untuk mempelajari berbagai praktik baik (best practices) yang telah mapan diterapkan di Yogyakarta, terutama dalam hal pariwisata berbasis budaya.
Ipuk menilai, Yogyakarta memiliki akar budaya yang sangat kuat yang mampu menjadi fondasi kokoh bagi sektor pariwisata yang berkelanjutan. Terlebih, ada kemiripan karakter budaya antara Banyuwangi dan Yogyakarta yang bisa menjadi modal sharing experience.
“Kami ingin belajar bagaimana Yogyakarta mampu menjaga kekuatan budaya dan local wisdom sehingga tetap relevan dan berkelanjutan dalam mendukung sektor pariwisata,” kata Ipuk.
Lebih lanjut, Ipuk menambahkan bahwa pembangunan pariwisata yang ideal harus memberikan dampak kesejahteraan langsung kepada masyarakat bawah. Hal itu dapat diakselerasi melalui keterlibatan aktif desa wisata, penguatan pelaku ekonomi kreatif, serta dukungan tata kelola birokrasi yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan warga. (LQD)


