Glaukoma Mengintai Tanpa Gejala, Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Kebutaan

oleh -367 Dilihat

KILASJATENG.ID – Dalam rangka memperingati World Glaucoma Week 2026 yang berlangsung pada 8–14 Maret 2026, JEC Group mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit glaukoma melalui edukasi dan pemeriksaan mata secara rutin.

Pekan Glaukoma Sedunia merupakan inisiatif global dari World Glaucoma Association yang diperingati setiap minggu kedua bulan Maret guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini serta pencegahan kebutaan akibat glaukoma. Tahun ini, kampanye tersebut mengusung tema “Uniting for a Glaucoma-Free World.”

Glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang merusak saraf optik secara perlahan. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan tekanan di dalam bola mata. Dalam kondisi normal, tekanan bola mata berada pada kisaran 10–21 mmHg, namun ketika tekanan meningkat atau saraf optik menjadi lebih rentan, kerusakan dapat terjadi secara bertahap hingga menyebabkan penyempitan lapang pandang dan berujung pada kebutaan permanen.

Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, tetapi lebih sering terjadi pada individu berusia di atas 40 tahun dan menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua di dunia setelah katarak.

Ketua Glaukoma Service JEC Group, Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), menjelaskan bahwa sebagian besar kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala pada tahap awal sehingga sering kali baru terdeteksi ketika kerusakan penglihatan sudah cukup berat.

“Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala sehingga sering baru terdeteksi saat pemeriksaan kesehatan. Namun jika muncul keluhan seperti sakit kepala hebat, penglihatan mendadak kabur, mual, muntah, atau nyeri mata, masyarakat perlu segera memeriksakan diri. Karena itu, skrining mata secara berkala sangat penting untuk mendeteksi glaukoma lebih dini,” ujarnya.

Di negara berkembang, sekitar 80–90 persen kasus glaukoma tidak terdiagnosis. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah di PubMed oleh Tham et al., jumlah penderita glaukoma di dunia diperkirakan mencapai sekitar 76 juta orang pada 2020 dan diproyeksikan meningkat menjadi 111,8 juta orang pada 2040 seiring pertumbuhan populasi dan meningkatnya angka harapan hidup.

Baca Juga  Sinergi Ditjen Migas dan Pertamina Patra Niaga Pastikan Pasokan LPG di Tuban Aman dan Normal

Sementara itu, di Indonesia prevalensi glaukoma mencapai sekitar 0,46 persen atau sekitar 4–5 orang per 1.000 penduduk, menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2023.

Faktor Risiko dan Jenis Glaukoma

Glaukoma juga menjadi perhatian di wilayah dengan jumlah penduduk besar seperti Jawa Tengah. Berdasarkan survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) di 15 provinsi di Indonesia, jumlah penduduk lanjut usia yang mengalami kebutaan di provinsi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 176.977 orang, menjadikannya salah satu wilayah dengan jumlah penderita kebutaan terbesar di Indonesia.

Prof. Widya menjelaskan bahwa sejumlah faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terkena glaukoma, antara lain riwayat keluarga, diabetes melitus, penggunaan steroid jangka panjang, kelainan refraksi tinggi seperti miopia atau hipermetropia, katarak, serta riwayat trauma pada mata.

Selain itu, glaukoma juga dapat terjadi pada bayi melalui kondisi bawaan yang dikenal sebagai glaukoma kongenital, dengan angka kejadian sekitar 1 dari 10.000 hingga 20.000 kelahiran, sebagaimana dilaporkan oleh American Academy of Ophthalmology.

Secara umum, glaukoma terbagi dalam beberapa jenis, di antaranya:

1. Glaukoma Primer Sudut Terbuka, jenis yang paling umum dan berkembang secara perlahan tanpa gejala.

2. Glaukoma Primer Sudut Tertutup, yang dapat muncul mendadak dengan gejala nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, mual, serta penglihatan kabur.

3. Glaukoma Kongenital, yang terjadi pada bayi atau anak akibat kelainan bawaan.

4. Glaukoma Sekunder, yang disebabkan oleh kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan obat steroid jangka panjang, atau penyakit tertentu.

Pentingnya Deteksi Dini

Dokter mata di JEC CANDI @ Semarang, DR. Dr. Fifin Luthfia Rahmi, MS, SpM(K), menjelaskan bahwa glaukoma sering disebut sebagai “silent thief of sight” atau pencuri penglihatan karena kerusakan saraf optik terjadi secara perlahan tanpa gejala yang jelas.

“Banyak pasien baru datang ketika lapang pandangnya sudah menyempit. Dengan diagnosis yang tepat serta pemantauan yang teratur, perkembangan penyakit dapat dikendalikan sehingga kualitas penglihatan pasien tetap terjaga,” ujarnya.

Baca Juga  Harga Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Kompak Naik, Ini Rinciannya per 16 April 2026

Diagnosis glaukoma umumnya dilakukan melalui sejumlah pemeriksaan, antara lain pengukuran tekanan bola mata (tonometri), pemeriksaan saraf optik menggunakan Optical Coherence Tomography (OCT), pemeriksaan lapang pandang atau visual field test, serta pemeriksaan sudut drainase mata melalui gonioskopi.

Penanganan glaukoma dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, seperti terapi obat tetes mata untuk menurunkan tekanan bola mata, terapi laser seperti Selective Laser Trabeculoplasty (SLT) dan Laser Peripheral Iridotomy (LPI), hingga tindakan operasi seperti trabeculectomy, pemasangan glaucoma drainage device, atau prosedur Minimally Invasive Glaucoma Surgery (MIGS).

Edukasi dan Skrining untuk Masyarakat

Sebagai bagian dari peringatan Pekan Glaukoma Sedunia 2026, JEC CANDI @ Semarang juga menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi bagi masyarakat, antara lain seminar publik, talkshow radio, serta diskusi edukatif bersama agen asuransi mengenai pentingnya pemeriksaan mata berkala dan perlindungan kesehatan.

“Melalui kegiatan ini kami berharap semakin banyak masyarakat memahami bahwa glaukoma sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal, sehingga pemeriksaan mata secara rutin sangat penting untuk mencegah kerusakan penglihatan permanen,” kata dr. Fifin.

Selama lebih dari 42 tahun, JEC Group telah menghadirkan layanan kesehatan mata di berbagai daerah di Indonesia dengan 15 cabang yang tersebar di wilayah Jabodetabek maupun luar Jabodetabek.

Ke depan, JEC juga tengah mengembangkan fasilitas baru JEC Bali @ Sanur yang dibangun di kawasan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur dengan konsep “Blue Hospital”, yakni rumah sakit dengan desain yang mendukung proses penyembuhan, memanfaatkan teknologi medis modern, serta menerapkan sistem bangunan yang efisien dan berkelanjutan.

Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem layanan kesehatan mata di Indonesia sekaligus mendukung pengembangan sektor wisata kesehatan nasional. (BNA)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News