KILASJATENG.ID- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mengalami perluasan. Pemerintah memastikan bahwa pada tahun 2026 mendatang, penerima manfaat MBG tidak hanya terbatas pada peserta didik, ibu hamil, dan lansia, tetapi juga mencakup guru serta tenaga pendidik.
Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN), Dadang Hendrayudha, saat menghadiri Pertemuan Pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Soloraya yang digelar di Kalipèpe Land, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Minggu malam.
“Tahun 2026 ini penerima manfaat MBG akan kami perluas. Tidak hanya siswa, ibu hamil, dan lansia, tetapi juga tenaga pendidik seperti guru,” ujar Dadang Hendrayudha.
Menurut Dadang, perluasan sasaran ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat ekosistem pendidikan melalui pemenuhan gizi yang merata, khususnya di lingkungan sekolah.
Dalam kesempatan tersebut, Dadang juga memaparkan capaian nasional Program MBG hingga saat ini. Secara nasional, sebanyak 20.419 dapur SPPG telah beroperasi dan melayani lebih dari 50 juta penerima manfaat di berbagai daerah.
“SPPG yang sudah berjalan secara nasional mencapai 20.419 dapur. Jumlah penerima manfaatnya lebih dari 50 juta orang, dan program ini telah menyerap tenaga kerja sedikitnya satu juta orang,” jelasnya.
Ia menegaskan, meski program MBG baru berjalan sekitar satu tahun, pemerintah akan terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan karena program tersebut menyangkut kepentingan dan hajat hidup masyarakat luas.
“Program ini akan terus kami sempurnakan karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat dan masa depan generasi bangsa,” tegas Dadang.
Sementara itu, Bupati Boyolali, Agus Irawan, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Program MBG di wilayahnya. Menurutnya, masyarakat penerima manfaat di 22 kecamatan di Kabupaten Boyolali merasakan langsung dampak positif program tersebut.
“Kami mengapresiasi Program MBG yang telah berjalan di Boyolali. Para penerima manfaat sangat bersyukur, terutama anak-anak sekolah,” kata Agus Irawan.
Agus juga menyampaikan terima kasih kepada para pengelola SPPG yang telah berpartisipasi aktif menyukseskan program MBG. Ia menilai keberadaan SPPG tidak semata berorientasi pada aspek bisnis, melainkan memiliki nilai kemanusiaan dan pengabdian terhadap bangsa.
“Apa yang dilakukan para pengelola SPPG ini bukan hanya soal bisnis, tetapi soal kemanusiaan dan kontribusi nyata dalam membangun Indonesia menuju Generasi Emas 2045,” ujarnya.
Melalui pertemuan para pengelola SPPG se-Soloraya tersebut, diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antar-SPPG dalam meningkatkan kualitas layanan pemenuhan gizi bagi penerima manfaat, khususnya peserta didik, sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.(*)


