Digelar di 10 Daerah, FMTI 2026 Lanjutkan Misi Bangun Ekosistem Musik Tradisi

oleh -1 Dilihat
Jumpa pers FMTI 2026 yang digelar di de'LIMA Solo, Jawa Tengah, Kamis 24 September 2026. (Foto: Putri Sejati)

KILASJATENG.ID– Gelaran tahunan Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) kembali digelar tahun ini. Mengusung tema “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara” festival yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni tersebut digelar secara maraton di 10 kota/kabupaten di seluruh Indonesia medio Oktober 2026 hingga Mei 2027. 

Direktur Festival FMTI, Gondrong Gunarto mengatakan, 10 kota/kabupaten yang akan menjadi tuan rumah perhelatan FMTI tersebar dari sabang hingga merauke. Yakni Bogor, Wonosobo, Maumere, Makassar, Kuningan, Aceh, Mataram, Pontianak, Bengkulu, dan Batusangkar.

“Pemilihan 10 daerah penyelenggaraan FMTI didasarkan pada potensi musik tradisi yang dimiliki masing-masing wilayah. Karena FMTI digelar untuk memberikan ruang kepada komunitas lokal yang memiliki kekayaan instrumen maupun tradisi musik, tetapi belum banyak mendapatkan panggung,” ujarnya dalam jumpa pers yang digelar di de’LIMA Solo, Jawa Tengah, Kamis 24 September 2026.

Hal itulah, lanjutnya, yang menjadi jawaban mengapa Kota Solo tidak menjadi kota penyelenggaraan FMTI. Lantaran musik tradisi di kota bengawan sudah mendapat banyak sorotan. “Di Solo sudah terlalu keren semuanya, enggak perlu. Karena kami ingin mengangkat potensi musik tradisi di daerah yang belum terekspos, misalnya di Wonosobo yang memiliki berbagai kelompok dan instrumen musik tradisi yang dinilai masih jarang diangkat ke ruang publik. Instrumennya macam-macam tapi belum dikenal, makanya kita olah di FMTI 2026 ini,” paparnya. 

Gondrong menjelaskan, pendekatan serupa diterapkan di daerah lain. FMTI ingin mengangkat potensi lokal masing-masing wilayah sebagai bagian dari gambaran keberagaman musik tradisi Indonesia. Dalam setiap daerah, festival akan melibatkan sekitar tujuh hingga sembilan kelompok musik. Jumlah tersebut disesuaikan dengan durasi pertunjukan dalam satu malam.

“Setiap satu kota ada tujuh sampai sembilan kelompok. Nanti lihat durasinya karena kita akan main semalam. Biasanya satu kelompok mungkin 20-25 menit,” jelasnya.

Ditambahkan Komite FMTI, Suban Sipakatau. FMTI memang dirancang untuk membangun ekosistem musik tradisi dari komunitas lokal. Karena itu, setiap daerah memiliki pendekatan yang berbeda sesuai dengan potensi kesenian yang berkembang di wilayah masing-masing.

Baca Juga  Puisi “Apa Sumpahmu” Dhenok Kristianti Diolah Menjadi Pertunjukan di Taman Budaya Yogyakarta

“Jadi sebenarnya kan kita mau membangun ekosistem daerah. Seumpama ekosistem daerah di Wonosobo, akhirnya kita membangun dari Wonosobo saja karena banyak. Daerah lainnya pun seperti itu,” kata Suban.

Menurut Suban, FMTI tidak sekadar mencari kelompok musik untuk tampil di panggung. Panitia ingin melihat bagaimana komunitas lokal dapat berkembang dan memiliki keberlanjutan setelah festival selesai.

Karena itu, salah satu indikator keberhasilan FMTI adalah semakin dikenalnya musik tradisi yang selama ini kurang populer di masyarakat. “Indikator keberhasilan kami nantinya bagaimana memunculkan musik-musik tradisi ini dari komunitas-komunitas akar rumput ini muncul lagi,” jelasnya.

Untuk menjaga keberlanjutan, panitia juga menggandeng pemerintah daerah. Tidak hanya soal pertunjukan, komunitas akan didorong memahami tata kelola dan manajemen kegiatan sehingga ekosistem dapat terus berjalan setelah FMTI berakhir.

“Di sana kita tidak hanya memunculkan penampilan musik tradisi, tapi mengolah tata kelolanya, manajemennya. Nantinya setelah kami sebagai komite FMTI ini, akan diteruskan ekosistemnya dari komunitas-komunitas itu bersama pemerintah daerah,” ungkap Suban.

FMTI 2026 akan digelar di 10 kota mulai 10 Oktober 2026 hingga Mei 2027. (Foto: dok FMTI)
FMTI 2026 akan digelar di 10 kota mulai 10 Oktober 2026 hingga Mei 2027. (Foto: dok FMTI)

Sementara itu, Direktur Kreatif FMTI, Joko S. Gombloh mengatakan, tema “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara” memiliki makna yang berkaitan dengan keberadaan musik tradisi sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

“Merajut menggambarkan proses menyambungkan berbagai fragmen tradisi musik yang tersebar di Nusantara melalui pertemuan, dialog, dan pertukaran pengalaman. Merajut merupakan proses yang memerlukan ketelitian, kesabaran, keterhubungan, dan kebersamaan,” jelas Gombloh.

Dalam konteks FMTI, merajut berarti mempertemukan berbagai komunitas, seniman, akademisi, generasi muda, pemerintah, dan masyarakat dalam ruang dialog yang saling menguatkan.

Sementara istilah “bayang-bayang musik Nusantara” menggambarkan jejak budaya yang ditinggalkan musik tradisi dan terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat.

Jejak tersebut dapat ditemukan dalam ritual adat, bahasa, cerita rakyat, lanskap alam, etika, spiritualitas, hingga pengetahuan lokal yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Baca Juga  Harumkan Kota Solo, Auranala Feat Woro Mustiko Wakili Indonesia Tampil di Busan Performing Arts Festival 2026

“Musik tradisi tidak berhenti ketika bunyi selesai diperdengarkan, tetapi terus hidup sebagai warisan nilai, etika, spiritualitas, serta pengetahuan lokal yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya,” kata Gombloh.

Menurutnya, tema tersebut sekaligus menjadi refleksi terhadap perubahan bentuk, fungsi, dan ruang hidup musik tradisi di tengah globalisasi serta transformasi digital.

“FMTI ingin membaca kembali jejak tersebut, memahami akar budayanya, sekaligus menghadirkan musik tradisi sebagai sumber inspirasi kebudayaan masa depan tanpa kehilangan identitas,” jelasnya.

Pelaksanaan FMTI 2026 sendiri mendapat dukungan penuh dari Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon. Ia mengatakan FMTI merupakan bagian dari upaya memastikan musik tradisi Indonesia tetap hidup, berkembang, dan memiliki ruang yang relevan di tengah perubahan zaman.

Menurut Fadli, kekayaan musik Indonesia tidak hanya terletak pada bentuk dan bunyinya. Di balik musik tradisi terdapat pengetahuan, nilai, identitas, serta kehidupan masyarakat yang menjadi ruang tumbuh kebudayaan tersebut.

“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, sebagai bagian dari mega diversity yang menjadi kekuatan bangsa. Melalui Festival Musik Tradisi Indonesia, kami ingin memperluas ruang bagi komunitas, seniman, generasi muda, dan masyarakat di berbagai daerah untuk terus merawat sekaligus mengembangkan musik tradisi,” ujar Menbud.

Rangkaian FMTI 2026 sendiri dijadwalkan dimulai dari Bogor pada 3 Oktober 2026, kemudian Wonosobo pada 17 Oktober, Maumere pada 23-24 Oktober, Makassar pada 28-29 Oktober, Kuningan pada 7 November, Aceh pada 14-15 November, dan Mataram pada 5 Desember 2026. Rangkaian selanjutnya berlangsung di Pontianak pada Januari 2027, Bengkulu pada 16-17 April 2027, dan Batusangkar pada Mei 2027.

Selain pertunjukan musik tradisi, FMTI juga menghadirkan seminar dan diskusi kebudayaan, apresiasi bagi seniman dan pelaku budaya, dokumentasi, publikasi, serta ruang bagi pelaku UMKM.*

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News