Tempe di Boyolali Perkecil Ukuran Imbas Kenaikan Harga Kedelai dan Plastik

oleh -1 Dilihat
Produsen tempe, Subandi, menunjukkan perbandingan ukuran tempe yang sudah dipangkas dampak dari naiknya harga bahan baku kedelai impor asal Amerika Serikat dan naiknya harga plastik di rumah produksinya di Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa 7 April 2026. (Foto: Agatha Janendra)
Produsen tempe, Subandi, menunjukkan perbandingan ukuran tempe yang sudah dipangkas dampak dari naiknya harga bahan baku kedelai impor asal Amerika Serikat dan naiknya harga plastik di rumah produksinya di Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa 7 April 2026. (Foto: Agatha Janendra)

KILASJATENG.ID- Kenaikan harga bahan baku akibat dampak konflik Timur Tengah mulai dirasakan pelaku usaha kecil di daerah. Produsen tempe di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terpaksa menyiasati lonjakan biaya produksi dengan memperkecil ukuran tempe, alih-alih menaikkan harga jual.
Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli konsumen agar tidak beralih ke produk lain di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

Salah satu produsen tempe di Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Subandi, mengaku harga kedelai impor asal Amerika Serikat sebagai bahan baku utama mengalami kenaikan sejak awal Ramadan. Harga kedelai kini mencapai Rp10.600 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp9.600 per kilogram.
“Sejak awal puasa harga kedelai sudah naik. Sekarang sudah Rp10.600 per kilo, sebelumnya masih Rp9.600. Ini sangat terasa bagi kami,” ujar Subandi saat ditemui di lokasi produksinya, Selasa (7 April 2026).

Tak hanya kedelai, harga plastik sebagai bahan pembungkus tempe juga melonjak tajam. Subandi menyebut, harga plastik yang biasanya Rp58 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp92 ribu per kilogram dalam dua pekan terakhir.
“Harga plastik juga ikut naik drastis. Biasanya Rp58 ribu, sekarang sudah Rp92 ribu per kilo. Ini menambah beban produksi kami,” jelasnya.

Baca Juga  150 Keluarga di Boyolali Terisolir Puluhan Tahun, Pembangunan Jembatan Garuda Mulai Dilakukan

Untuk menyiasati kondisi tersebut, Subandi memilih tidak menaikkan harga jual tempe secara langsung. Ia khawatir kenaikan harga akan membuat pelanggan beralih ke produk lain. Sebagai gantinya, ia mengurangi ukuran tempe yang dijual.

Tempe yang sebelumnya memiliki panjang 15 sentimeter kini diperkecil menjadi 13 sentimeter dengan harga tetap Rp2.500. Sementara tempe ukuran besar dari 30 sentimeter kini menjadi 27 sentimeter dan dijual Rp5.000.

“Kami tidak berani menaikkan harga karena takut pembeli lari. Jadi sementara ini kami kecilkan ukurannya dulu,” katanya.

Subandi menambahkan, strategi ini akan terus dilakukan selama harga bahan baku masih tinggi. Ia bahkan berencana terus menyesuaikan ukuran tempe hingga batas tertentu sebelum akhirnya menaikkan harga.

“Kalau nanti sudah terlalu kecil, mungkin baru kami naikkan harga dan kembalikan ukuran. Ini cara kami bertahan,” ujarnya.
Sementara itu, perajin tahu di wilayah yang sama, Wardiyanto, memilih strategi berbeda. Ia mengaku masih berusaha menahan kenaikan harga dengan mengurangi margin keuntungan, meski sebagian harga sudah mulai disesuaikan.

Baca Juga  Pastikan Kelancaran Distribusi Elpiji, Gubernur Luthfi Tinjau Langsung SPPBE di Karanganyar

“Saat ini kami kurangi untung dulu. Tapi mau tidak mau harga sudah mulai naik dari Rp60 ribu per papan menjadi Rp65 ribu, nanti bisa sampai Rp70 ribu,” kata Wardiyanto.

Menurutnya, kenaikan harga bahan baku membuat pelaku usaha berada dalam posisi sulit karena harus menyeimbangkan antara biaya produksi dan daya beli masyarakat.

Para perajin tempe dan tahu berharap konflik di Timur Tengah dapat segera mereda agar harga kedelai impor dan bahan pendukung lainnya kembali stabil.
“Kami berharap kondisi cepat normal, supaya harga bahan baku turun dan usaha kami bisa kembali stabil,” tutur Subandi.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News