KILASJATENG.ID — Sebanyak 150 keluarga di Desa Bolo, Kecamatan Wonosegoro, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, selama puluhan tahun hidup dalam kondisi terisolir akibat tidak adanya akses jembatan penghubung.
Selama ini, warga Dukuh Bolo Tangkil harus menyeberangi Sungai Serang dengan arus deras untuk beraktivitas sehari-hari, mulai dari bekerja, bersekolah, hingga berobat. Alternatif lain adalah memutar sejauh sekitar 8 kilometer.
Dalam dokumentasi udara yang dirilis Kodim 0724 Boyolali, terlihat anak-anak sekolah harus menyeberangi sungai dengan berjalan kaki, bahkan digendong orang tua mereka demi mencapai sekolah di seberang sungai.
Ketua RT 004 RW 015 Dukuh Bolo Tangkil, Wagiman, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan kerap menimbulkan risiko keselamatan.
“Selama ini warga tidak punya akses jembatan. Jadi terpaksa menyeberang sungai, padahal arusnya deras. Sudah ada sekitar 10 orang yang hanyut saat menyeberang,” ujar Wagiman.
Ia menambahkan, saat musim hujan, anak-anak kerap tidak berangkat sekolah karena khawatir terseret arus sungai.
“Kalau hujan deras, anak-anak tidak sekolah karena takut hanyut. Padahal sekolah, tempat kerja, dan fasilitas kesehatan ada di seberang,” tambahnya.
Warga pun menyambut baik dimulainya pembangunan jembatan penghubung melalui program Jembatan Garuda yang digagas pemerintah pusat bersama Kodam IV/Diponegoro.
“Alhamdulillah sekarang mau dibangun jembatan. Kami sangat lega, semoga akses warga jadi lebih mudah dan aman,” kata Wagiman.

Sementara itu, Pangdam IV/Diponegoro, Mayjen TNI Achiruddin, menjelaskan pembangunan Jembatan Garuda merupakan program strategis pemerintah pusat atas arahan Presiden Prabowo Subianto untuk membuka akses wilayah terisolir.
“Program ini merupakan upaya membuka keterisolasian wilayah. Ada sekitar 60 jembatan yang dibangun serentak di Jawa Tengah dan DIY,” jelas Achiruddin.
Khusus di Desa Bolo, jembatan yang dibangun memiliki panjang sekitar 100 meter dan ditargetkan selesai dalam waktu satu bulan. Pembangunan dilakukan secara gotong royong oleh TNI bersama warga tanpa melibatkan kontraktor.
“Nantinya setelah selesai, jembatan akan diserahkan kepada pemerintah desa untuk dimanfaatkan masyarakat,” tambahnya.
Pembangunan jembatan ini diharapkan mampu membuka akses bagi warga yang selama ini terisolir, memperlancar mobilitas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.(*)


