Sambut Ramadan 2026, Boyolali Gelar Tradisi Padusan dan Kirab Budaya di Umbul Tirtomarto Pengging

oleh -2 Dilihat
Duta wisata mas mbak Boyolali 2025 mengikuti tradisi padusan di kompleks umbul Tirtomarto, Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Senin (16 Februari 2026) siang. Tradisi padusan dilaksanakan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. (Foto: Agatha Janendra)
Duta wisata mas mbak Boyolali 2025 mengikuti tradisi padusan di kompleks umbul Tirtomarto, Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Senin 16 Februari 2026 siang. Tradisi padusan dilaksanakan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. (Foto: Agatha Janendra)

KILASJATENG.ID– Menyambut Bulan Suci Ramadan 2026, Pemerintah Kabupaten Boyolali mengawali rangkaian kegiatan dengan menggelar tradisi Padusan yang dipusatkan di Umbul Tirtomarto Pengging, Kecamatan Banyudono, Senin 16 Februari 2026 siang.

Tradisi yang telah diwariskan sejak era Wali Songo ini dimaknai sebagai upaya membersihkan dan menyucikan diri, baik lahir maupun batin, sebelum menjalankan ibadah puasa.

Kegiatan diawali dengan kirab budaya dari kantor kecamatan menuju Umbul Tirtomarto Pengging. Setibanya di lokasi, peserta kirab disambut tarian tradisional, sebelum dilanjutkan prosesi siraman secara simbolis.

Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali, Wiwis Triswi Handayani, memimpin prosesi siraman dengan menyiramkan air dari pemandian Pengging kepada pasangan Duta Wisata Mas dan Mbak Boyolali 2025 sebagai simbol penyucian diri.

Prosesi Padusan dan siraman dilaksanakan di Umbul Ngabean yang berada di kompleks Umbul Tirtomarto Pengging. Umbul ini merupakan salah satu petilasan yang dibangun pada masa Raja Pakubuwana X dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Baca Juga  Meriahkan Tahun Baru Imlek 2577, DPC PDIP Solo Bagi-Bagi Angpao dan Kue Keranjang 

Makna Spiritual dan Pelestarian Budaya

Mas Duta Wisata Boyolali 2025, Atsaal Surya Hima Pratama, mengatakan tradisi Padusan menjadi bagian penting dalam budaya masyarakat Jawa menjelang Ramadan.

“Padusan adalah tradisi masyarakat Jawa untuk menyucikan diri sebelum memasuki bulan puasa. Harapannya, kita diberi kelancaran dan kekhusyukan selama menjalankan ibadah Ramadan,” ujar Atsaal.

Senada dengan itu, Mbak Duta Wisata Boyolali 2025, Anisa Risqi Aulya, menegaskan bahwa Padusan merupakan tradisi turun-temurun yang harus terus dijaga.

“Tradisi ini sudah mengakar dalam budaya masyarakat Jawa. Karena itu, wajib kita lestarikan agar tetap dikenal dan dijaga oleh generasi selanjutnya,” katanya.

Sementara itu, Sekda Boyolali Wiwis Triswi Handayani menyampaikan bahwa Padusan telah menjadi agenda rutin Pemerintah Kabupaten Boyolali setiap menyambut Ramadan.

“Tradisi Padusan selalu diawali dengan kirab budaya. Ini merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah untuk terus membangun daerah dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya dan tradisi lokal,” jelas Wiwis.

Baca Juga  Rumah Tua Roboh di Sukoharjo, Lansia 82 Tahun Tewas Tertimpa Reruntuhan

Penanggung jawab Keraton Kasunanan Solo, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, menambahkan bahwa Padusan adalah warisan budaya yang sarat makna spiritual.

“Padusan merupakan wujud penyucian diri, baik lahir maupun batin. Secara lahiriah ditandai dengan mandi atau membersihkan diri, agar saat memasuki bulan puasa, badan, pikiran, dan batin dalam keadaan bersih,” ungkapnya.

Harapan di Tengah Modernisasi

Melalui penyelenggaraan tradisi Padusan dan kirab budaya ini, diharapkan masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga dan melestarikan tradisi lokal di tengah arus modernisasi yang kian pesat.

Tradisi Padusan bukan sekadar ritual seremonial, tetapi juga menjadi pengingat akan nilai spiritualitas, kebersamaan, dan kearifan lokal yang telah diwariskan lintas generasi di Tanah Jawa, khususnya di Kabupaten Boyolali.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News