Rebut Hati Gen Z, Pakar Sebut Branding Harus Dibangun Lewat Cerita dan Kepercayaan

oleh -4 Dilihat

KILASJATENG.ID — Para pemilik brand harus mulai mengubah cara berkomunikasi dan tak lagi mengandalkan pola lama jika ingin sampai dan diterima baik oleh masyarakat. Apalagi di tengah dominasi Generasi Z di ruang digital, strategi komunikasi dituntut lebih ringkas, relevan, dan mampu menyentuh sisi emosional audiens.

Hal itu mengemuka dalam talkshow SMG Economic Insight 2026: Branding Bukan Sekadar Citra yang digelar di Multifunction Hall Radya Litera Griya Solopos, Solo, Jumat 30 Januari 2026.

Dalam forum tersebut, dua pembicara menyoroti perubahan lanskap komunikasi yang makin dipengaruhi karakter Gen Z sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi.

Pakar Branding Universitas Prasetiya Mulya, Prof. Agus W. Soehadi menilai pendekatan komunikasi konvensional mulai kehilangan daya tarik. Menurutnya, Gen Z cenderung tidak tertarik pada pesan yang panjang dan kaku, namun lebih responsif terhadap narasi yang dibangun melalui pengalaman visual dan emosi.

“Generasi Z tidak suka sesuatu yang panjang karena terbiasa dengan short video. Tapi short video yang dikumpulkan bisa membentuk benang merah, maka benang merah itu penting dibuat,” kata Prof. Agus.

Ia menyebut dunia komunikasi politik saat ini bergerak menuju konsep micro-cinema, di mana pesan tidak lagi disampaikan sebagai penjelasan ideologi, melainkan sebagai rangkaian cerita yang membuat audiens merasa terlibat. Dalam pola baru ini, publik bukan lagi sekadar pemilih atau konsumen, melainkan audience yang perlu diajak masuk ke dalam alur cerita.

Baca Juga  Adira Expo Serba Seru Kembali Hadir di Solo, Tawarkan Beragam Promo

Prof. Agus menjelaskan, pendekatan sinematik dalam branding dimulai dari penentuan aura atau makna inti yang menjadi identitas utama. Setelah itu dibangun cerita besar yang kemudian diterjemahkan dalam berbagai “scene” atau pengalaman nyata. Puncaknya ada pada moment of truth, yakni momen ketika audiens merasakan langsung apakah narasi tersebut sesuai kenyataan. Jika berhasil, brand akan memunculkan resonansi emosional dan lebih mudah diceritakan ulang oleh publik.

Sementara itu, Direktur PT Asia Pacific Fibers, Dr. Antonius W. Sumarlin, menyoroti pentingnya komunikasi dalam dunia industri, terutama menghadapi tantangan manufaktur tahun 2026. Ia menegaskan bahwa di era digital, kepercayaan telah menjadi aset strategis yang menentukan reputasi perusahaan.

Menurutnya, kegagalan membangun kepercayaan bisa menjadi risiko besar, bukan hanya dari sisi citra, tetapi juga keberlangsungan organisasi. Karena itu, komunikasi harus berjalan secara menyeluruh, tidak hanya internal, tetapi juga eksternal, dengan pendekatan yang relevan dan kompetitif.

Antonius juga menekankan bahwa komunikasi di perusahaan tidak bisa lagi bersifat satu arah. Ia mencontohkan, suasana komunikasi yang terbuka memungkinkan pimpinan menyerap persoalan dari berbagai lini dan berdampak pada kebijakan yang lebih tepat.

“Jadi bukan one way lagi, saya bikin begini, orang dipaksa. Tidak akan bisa di era sekarang, apalagi ada generasi Z,” ujarnya.

Forum tersebut menegaskan bahwa strategi branding masa kini tidak cukup hanya membangun citra, tetapi juga membutuhkan cerita yang kuat, pengalaman yang nyata, serta kepercayaan yang terus dirawat agar pesan dapat diterima dan bertahan di tengah dinamika publik digital.

Baca Juga  Jaga Kepercayaan Investor, BEI dan OJK Siap Temui MSCI Bahas Transparansi Bursa

Sementara itu, untuk menjawab tantangan tersebut di kesempatan yang sama, Solopos Media Group (SMG) secara resmi meluncurkan Literaworks sebagai mitra komunikasi strategis yang mengedepankan pendekatan narasi berbasis konteks dan dampak nyata.

Mengusung filosofi Context First, Impact Follows, Literaworks memposisikan diri bukan sekadar sebagai agensi produksi konten, melainkan sebagai mitra strategis yang membangun pemahaman publik sekaligus mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Dan siap menjalin kemitraan dengan berbagai kalangan untuk membangun pemahaman publik yang lebih komprehensif.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) SMG, Arif Budisusilo, menyampaikan

Literaworks menawarkan model kerja sama yang fleksibel, mulai dari kerja sama berbasis proyek, kemitraan jangka panjang (retainer), hingga kampanye terintegrasi. Layanan yang diberikan mencakup penyediaan insight dan strategi, aktivasi narasi, hingga manajemen konten dan distribusi

“Jadi kekuatan kita apa? Kami adalah born media. Kalau bicara pendekatan jurnalistik, tentu iya. Justru kami memiliki competitive advantage, yakni jurnalis-jurnalis dari Solo, Jogja, hingga Jakarta yang bekerja berbasis data,” ujar Arif.*

 

 

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News