Kilang Terintegrasi Balikpapan Beroperasi, RI Hemat Devisa hingga Rp60 Triliun

oleh -323 Dilihat
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia saat menyampaikan laporannya di acara peresmian Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur

KILASJATENG.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa operasional Kilang Terintegrasi Balikpapan menjadi tonggak sejarah baru bagi kemandirian energi nasional. Proyek strategis ini diproyeksikan mampu menghemat devisa negara hingga Rp60 triliun per tahun.

Penghematan fantastis ini merupakan dampak langsung dari penurunan volume impor Bahan Bakar Minyak (BBM) setelah kapasitas produksi dalam negeri meningkat signifikan.

Investasi Strategis dan Kapasitas Produksi
Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan ini menelan investasi sebesar USD 7,4 miliar atau sekitar Rp123 triliun. Dengan nilai investasi tersebut, Kilang Balikpapan kini mengalami peningkatan kapasitas pengolahan minyak mentah:

1. Kapasitas Lama: 260 ribu barel per hari.

2. Kapasitas Baru: 360 ribu barel per hari.

3. Tambahan Produksi: 100 ribu barel per hari.

Baca Juga  Resmikan RDMP Balikpapan Senilai Rp 123 Triliun, Presiden Prabowo Targetkan Swasembada Energi

“Dengan RDMP ini, kita bisa hemat devisa hingga Rp60 triliun lebih per tahunnya,” ujar Bahlil di Balikpapan, Senin (12/1/2026).

Rincian Penurunan Impor Energi
Data dari PT Pertamina (Persero) bahkan mencatat potensi penurunan impor energi yang lebih spesifik, yakni mencapai total Rp68 triliun per tahun, dengan rincian sebagai berikut:

1. Bensin: Penurunan Rp44,6 triliun.

2. Solar: Penurunan Rp14,9 triliun.

3. Avtur: Penurunan Rp5,4 triliun.

4. LPG: Penurunan Rp2,9 triliun.

Menuju Standar Euro 5 dan Surplus Solar
Selain aspek kuantitas, Bahlil menekankan peningkatan kualitas produk yang dihasilkan. BBM dari Kilang Balikpapan kini telah memenuhi standar Euro 5, yang lebih ramah lingkungan dan mendukung target Net Zero Emission.

Bahlil juga membawa kabar baik mengenai kemandirian pasokan solar nasional. Berdasarkan instruksi Presiden Prabowo Subianto, Indonesia menargetkan untuk menyetop impor solar sepenuhnya. “Kebutuhan solar kita 38 juta kiloliter. Dengan tambahan produksi dari sini, kita bisa surplus sekitar 1,4 juta kiloliter. Insyaallah kita tidak ada lagi impor solar ke depannya,” tambahnya.

Baca Juga  Pemerintah Pastikan Tarif Listrik Januari 2026 Stabil

Visi Swasembada Energi Presiden Prabowo
Kunjungan ini juga mempertegas komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam mencapai swasembada energi dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Presiden menegaskan bahwa Indonesia harus mandiri dalam mengelola kekayaan alamnya, mulai dari batu bara hingga panas bumi (geothermal).

“Kita harus bisa hasilkan sendiri. Kita harapkan lima tahun bisa mencapai ini. Tidak masalah kalau tahun keenam atau ketujuh, yang penting arahnya ke situ (swasembada),” tegas Presiden Prabowo. (HQT)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News