“Maunya ya jadi tambah konsumen, pembeli. Karena jalan sudah lebih baik daripada yang dulu. Yang dulu, kadang ada yang beli, kadang ada yang tidak. Mungkin juga karena jalan rusak (pembeli malas lewat). Sekarang jalan sudah bagus, mudah-mudahan pelanggan tambah,” kata Casiman.
Kepala Dusun Kalisabuk Fathul Mujibri mengaku, warga sebenarnya sudah mengeluh akibat jalannya rusak. Bahkan mereka sempat protes. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah desa agar secepatnya ditangani. Meski sebenarnya, pemdes sudah memberikan penanganan darurat meski tak maksimal.
“Sejak ada kunjungan gubernur, langsung bisa ditangani. Yang awalnya diperbaiki bulan Juni. Alhamdulillah, Mei akhir sudah bisa terealisasi dengan kondisi jalan yang sangat baik,” jelasnya.
Kepala Desa Kalisabuk Ripan menjelaskan, pihak desa segera menindaklanjuti keluhan warga dan arahan gubernur ketika melintasi Jalan Kamboja. Pihaknya semula memang belum melakukan penanganan jalan rusak akibat pandemi Covid-19.
“Upaya kami sudah melakukan penutupan dengan crop (tambal). Sekitar ada lima dump truk. Karena belum terbangun, sehingga kondisi jalan tetap rusak dan sulit dilalui masyarakat. Khususnya pedagang, petani dan sebagainya,” kata Ripan.
Kerusakan jalan itu sampai viral dan sampai terdengar gubernur. Ganjar pun menyempatkan meninjau lokasi dan memintanya segera menangani. Pemdes pun mengerahkan anggaran dana desa bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk bersama menangani jalan rusak. Seperti dari PT Solusi Bangun Indonesia, Tbk Pabrik Cilacap, Pabrik Semen Bima, dan Paguyuban Penambang Slamet Selatan.
“Alhamdulilah jalan telah terselesaikan. Kalau sumber anggaran yang kita lakukan, jumlah nilai dari PT SBI Rp100 juta, dari pemerintah desa Rp100 juta, yang lainnya (swadaya warga). Total menelan Rp250 juta. Ada sumber daya masyarakat juga dalam bentuk tenaga dan lainnya,” kata Ripan.